Tampilkan postingan dengan label Parasitologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parasitologi. Tampilkan semua postingan

Morfologi, Siklus hidup, gejala dan Pengobatan Cacing Tambang Ancylostoma duodenale dan Necator americanus

Cacing tambang merupakan parasit yang paling umun menginfeksi manusia. Tidak seperti malaria, amoebiasis, atau schistosomiasis, infeksi cacing tambang tidak terlalu mendapat perhatian di dunia medis walaupun sangat berpengaruh pada populasi manusi. Infeksi cacing tambang secara bertahap dapat melemahkan kekuatan dan vitalitas korbannya. Ada dua spesies cacing tambang yang seringkali menginfeksi manusia, yaitu Ancylostoma duodenale dan Necator americanus.

Morfologi Cacing Tambang Ancylostoma duodenale dan Necator americanus

 Ancylostoma duodenale lebih patogen daripada Necator americanus serta memiliki bentuk morfologi yang lebih besar.  Ancylostoma duodenale betina mempunyai panjang 9-13 mm sedangkan yang jantang mempunyai panjang 5-11 mm. Sistem reproduksi tergolong didelfis, yaitu memiliki ovarium ganda. Sedangkan yang  Ancylostoma duodenale jantan hanya memiliki satu testis. Ujung posterior  Ancylostoma duodenale  jantan memiliki struktur yang mirip dengan payung serta memiliki jari-jari yang mirip dengan tulang rusuk. Struktur tersebut disebut dengan copulatory bursa yang berfungsi untuk menempel pada vulva betina saat kopulasi.

Telur cacing tambang Ancylostoma duodenale dan Necator americanus

Telur Ancylostoma duodenale dan Necator americanus sangatlah mirip. Hanya saja telur Necator americanus berukuran lebih besar, yaitu mempunyai panjang 64-76 um dan lebar 36-40 um. Telur dari kedua spesies tersebut memiliki cangkang tipis dan transparan dan ujung yang membulat.

Morfologi, Siklus hidup, gejala dan Pengobatan Cacing Tambang Ancylostoma duodenale dan Necator americanus
Gambar cacing tambang dewasa: a) Jantan, b) Betina


Siklus Hidup  Cacing Tambang Ancylostoma duodenale dan Necator americanus

Manusia merupakan inang dari Ancylostoma duodenale sedangkan Necator americanus inang umumnya adalah anjing. Telur akan keluar dari inang bersama dengan feses. Dalam kondisi optimal (suhu 23-22 derajat celcius) larva rhabditiform akan terbentuk dalam 1-2 hari dan menetas.  Larva rhabditiform yang baru menetas mempunyai ukuran 275 um. Larva tersebut akan memakan bakteri dan sisa-sisa bahan organik. Ukuran larva akan bertambah menjadi 2 kali lipat setelah 5 hari. Setelah dua kali ganti kulit, larva rhabditiform menjadi larva filariform. Larva filariform merupakan larva yang tidak makan (nonfeeding) dan infektif. Larva filariformlah yang akan menginfeksi inangnya, termasuk manusia.

Larva cacing tambang necator americanus menginfeksi tubuh manusia melalui kulit. Infeksi pada manusia terjadi ketika larva filariform menembus kulit, biasanya pada kaki dan tungkai. Jalan masuk dari larva tersebut adalah melalui folikel rambut, pori-pori dan kulit yang lecet. Setelah penetrasi, larva memasuki sistem limfatik inang, bermigrasi ke sisi kanan jantung, dan memasuki paru-paru melalui arteri pulmonalis. Setelah keluar dari kapiler paru-paru, larva memasuki alveoli dan bermigrasi naik ke saluran pernafasan atas. Setelah itu akan masuk ke sistem pernafasan setelah tertelan. Begitu larva mencapai usus, larva akan masuk ke dalam ruang antarvili. Larva menjadi dewasa secara seksual 5 sampai 6 minggu pasca penetrasi.

Morfologi, Siklus hidup, gejala dan Pengobatan Cacing Tambang Ancylostoma duodenale dan Necator americanus
Gambar siklus hidup cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus)

Gejala dan diagnosis  Cacing Tambang Ancylostoma duodenale dan Necator americanus

Ada tiga tahapan ketika cacing tambang menginfeksi manusia, yaitu invasi, migrasi, dan perkembangan di usus. Invasi dimulai ketika larva infektif menembus kulit manusia. Ketika penetrasi terjadi pada kulit bagian superfisial, terjadi  reaksi seluller dan reaksi inflamasi dengan tujuan agar dapat mengisolasi dan membunuh larva.

Fase migrasi adalah fase ketika larva keluar dari kapiler di paru-paru, memasuki alveoli, bronkus dan tenggorokan. Larva terkadang akan berhenti di paru-paru, berkembang dan bereproduksi layaknya di usus. Hal tersebut menyebabkan terjadinya sensasi rasa terbakar di paru-paru.

Fase perkembangan dan diagnosis  Cacing Tambang Ancylostoma duodenale dan Necator americanus

Cacing tambang betina akan menempel pada mukosa usus, jarang sampai menembus di luar otot usus. Infeksi cacing tambang menyebabkan rasa sakit dan rasa terbakar di daerah perut, disertai mual, muntah, dan diare.

Setelah mencapai usus kecil, cacing muda menggunakan kapsul bukal dan gigi-giginya untuk melukai mukosa usus dan minum darah inangnya. Kelenjar ludah dari Ancylostoma duodenale dan Necator americanus mengandung antikoagulan. Antikoagulan adalah suatu zat yang mampu menghambat proses pembekuan darah sehingga cacing dapat dengan mudah mengisap darah. Oleh karena itu penderita penyakit cacing ini biasanya akan mengalami anemia dan defisiensi nutrisi.

Diagnosis yang paling depat dan akurat adalah dengan cara identifikasi larva rhabditiform atau filariform dalam tinja.

Pengobatan cacing tambang  Cacing Tambang Ancylostoma duodenale dan Necator americanus

Beberapa obat dapat secara efektif mengobati infeksi cacing tambang. Obat-obat yang dapat membasmi cacing tambang diantaranya adalah mebendazol atau albendazol. Pengobatan dengan mebendazol atau albendazol selama tiga hari berturut-turut secara efektif mampu menyembuhkan serangan cacing tambang.

Demikian postingan tentang Morfologi, Siklus hidup, gejala dan Pengobatan Cacing Tambang Ancylostoma duodenale dan Necator americanus


Semoga Bermanfaat

Read more

Siklus Hidup, Penularan, Gejala terinfeksi, Pengobatan, dan Pencegahan Strongyloides stercoralis

Morfologi Strongyloides stercoralis

Strongyloides stercoralis merupakan nematoda dari kelas Secernentea. Strongyloides stercoralis  mempunyai tiga macam siklus hidup yaitu hidup bebas (Free-living Phase), sebagai parasit (Parasitic Phase) dan autoinfeksi (autoinfectious). Pada Strongyloides stercoralis yang hidup bebas (Free-living Phase) terdapat individu jantan dan betina. Sedangkan pada Strongyloides stercoralis yang parasit (Parasitic Phase) hanya terdapat betina protandrogonous. Di awal pertumbuhanya, betina protandrogonous sebenarnya mempunyai sistem reproduksi jantan, namun akan berlahan-lahan hilang dan  organ reproduksi betina terus berkembang sehingga memberikan kesan bahwa cacing Strongyloides stercoralis bereproduksi secara partenogenesis.

Betina protandrogonous memiliki panjang sekitar 2,0 mm dan lebar 0,04 mm. Strongyloides stercoralis jantan yang hidup bebas mempunyai panjangnya sekitar 1,0 mm sedangkan betina yang hidup bebas panjangnya sekitar 2,0 hingga 2,5 mm. Uterus Strongyloides stercoralis yang hidup bebas mengandung lebih banyak telur daripada betina protandrogonous.

a) Strongyloides stercoralis Betina protandrogonous, b). Strongyloides stercoralis jantan (Free-living Phase), c). Strongyloides stercoralis betina (Free-living Phase)
a) Strongyloides stercoralis Betina protandrogonous, b). Strongyloides stercoralis jantan (Free-living Phase), c). Strongyloides stercoralis betina (Free-living Phase)

Siklus Hidup cacing Strongyloides stercoralis

1. Fase hidup bebas (Free-living Phase)

Strongyloides stercoralis dapat hidup bebas di tanah lembab dan iklim hangat. Kopulasi antara cacing jantan dan cacing betina terjadi di dalam tanah. Ketika sperma telah menembus oosit, inti sperma akan hancur. Penetrasi sperma hanya mengaktifkan oosit untuk berkembang secara partenogenetik tanpa memberi kontribusi pada materi genetik embrio yang sedang berkembang. Telur akan menetas di tanah. Larva rhabditiform akan memakan sisa-sisa bahan organik. Setelah melewati 4 kali molting, larva akan menjadi dewasa secara seksual kemudia siklus akan berulang.

Namun, jika lingkungan menjadi tidak ramah, larva rhabditiform berganti kulit dua kali kemudian  menjadi larva filariform. Larva tersebut tidak makan dan merupakan bentuk infektif bagi manusia.

2. Fase sebagai parasit (Parasitic Phase)

Ketika manusia bersentuhan dengan larva filariform. Larva kemudian dengan mudah menembus kulit kemudian masuk ke pembuluh darah atau pemluluh limfa. Larva filariform lalu masuk ke jantung dan bersama darah masuk ke paru-paru. Di dalam paru-paru terjadi molting yang ketiga, larva pecah dari kapiler paru dan masuk ke alveoli. 

Ada beberapa bukti laboratorium dengan menggunakan hewan percobaan bahwa tidak semua larva masuk paru-paru. Namun gejala pada sebagian besar pasien yang terinfeksi mengeluhkan gejala pada paru-paru, sehingga disimpulkan bahwa kasus infeksi pada manusia hampir semuanya masuk ke dalam paru-paru.

Dari alveolus, larva bergerak ke ke epiglotis kemudian menuju kerongkongan dan turun ke usus. Di dalam usus cacing melakukan ganti kulit terakhir dan menjadi cacing protandrogonous. . Cacing menggali ke dalam mukosa kecil dan menghasilkan telur berembrio dalam waktu 25 sampai 30 hari setelah infeksi. 

Beberapa peneliti melaporkan bahwa embrio diproduksi secara partenogenetik, namun ada juga yang melaporkan bahwa telur merupakan hasil pembuahan.

Telur, rata-rata berukuran 54 x 32 mm dan ditutupi oleh cangkang tipis transparan. Telur menetas di mukosa kemudian menjadi larva rhabditiform. Larva rhabditiform dalam lumen usus keluar dari tubuh inang bersama tinja. Telur jarang ditemukan dalam tinja.

 Dalam kondisi yang menguntungkan, larva tetap di dalam tanah serta mengalami empat kali ganti kulit hingga menjadi dewasa (hidup bebas). Namun, dalam kondisi yang merugikan, larva rhabditiform bermetamorfosis menjadi larva filariform yang infektif ada manusia.

Siklus Hidup, Penularan, Gejala terinfeksi, Pengobatan, dan Pencegahan Strongyloides stercoralis
Siklus Hidup Strongyloides stercoralis

3. Fase Autoinfeksi

Selama perjalanan melalui saluran pencernaan larva rhabditiform dapat dengan cepat mengalami dua kali pergantian kulit menjadi larva filariform kemudian menembus mukosa usus atau kulit perianal lalu memasuki sistem peredaran darah. Cacing melanjutkan hidup parasit mereka tanpa pernah meninggalkan inangnya. Siklus seperti itu sering terjadi dan menyebabkan beberapa orang telah menyimpan infeksi selama lebih dari 50 tahun, serta mengakibatkan infeksi yang semakin berat, bahkan mematikan.

Penularan Strongyloides stercoralis

Manusia biasanya tertular infeksi melalui kontak dengan larva infektif di dalam tanah dan lebih jarang dari larva mengkontaminasi air.

Gejala terinfeksi Strongyloides stercoralis

Ada tiga gejala ketika manusia terinfeksi Strongyloides stercoralis yaitu gejala yang muncul pada kulit, paru, dan usus. Gejala pada kulit ditandai dengan sedikit pendarahan, pembengkakan, dan rasa gatal yang hebat pada tempat masuknya larva filariform. Migrasi larva melalui paru-paru menyebabkan gejala pada paru-paru. Kerusakan paru-paru karena migrasi larva tersebut menyebabkan reaksi seluler terjadi sehingga menunda atau mencegah migrasi ke tempat lain. Ketika hal tersebut terjadi, larva dapat berkembang di paru-paru dan mulai bereproduksi seperti di usus sehingga penderita mengalami sensasi terbakar di dada, batuk, dan gejala pneumonia bronkial lainnya.

Gejala pada usus muncul ketika cacing betina tertanam di mukosa. Infeksi sedang sampai berat menghasilkan rasa sakit dan rasa terbakar yang hebat di daerah perut, disertai dengan mual, muntah, dan diare intermiten. Infeksi yang berlangsung lama menyebabkan disentri kronis dan penurunan berat badan. Infeksi yang sangat berat dapat berakibat fatal. 

Cara diagnosis yang paling mudah dan akurat adalah identifikasi mikroskopis larva rhabditiform atau filariform dalam tinja.

Pengobatan Infeksi Strongyloides stercoralis

Pengobatan dilakukan dengan pemberian 400 mg albendazole setiap hari selama 3 hari berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ivermectin (200 mg/kg) satu kali dosis berhasil mengobati infeksi Strongyloides stercoralis dengan tingkat kesembuhan sebesar 90%.

Pencegahan Infeksi Strongyloides stercoralis

Pencegahan infeksi Strongyloides stercoralis adalah dengan menjaga sanitasi lingkungan. Tidak membuang kotoran manusia sembarangan serta mengobati orang yang telah terinfeksi agar tidak menyebarkan cacing ke orang lain di sekitarnya.

Demikian postingan tentang Siklus Hidup, Penularan, Gejala terinfeksi, Pengobatan, dan Pencegahan Strongyloides stercoralis. Semoga bermanfaat

Read more

Trichinella Spiralis : Morfologi, Siklus Hidup, Epidemiologi, Gejala infeksi, Diagnosis dan Pencegahannya

 Morfologi cacing Trichinella Spiralis

Cacing dewasa mempunyai bentuk kecil dan ramping . Individu jantan berukuran 1,5 x 0,04 mm, memiliki ujung posterior melengkung dengan dua pelengkap lobus yang disebut alae. Sistem reproduksi pria adalah  testis tunggal yang terletak di sepertiga posterior dari tubuh. Cacing betina berukuran 3,5 x 0,06 mm, memiliki ujung posterior yang membulat dan bersifat monodelfis, dengan vulva di seperlima anterior tubuh.

Trichinella Spiralis : Morfologi, Siklus Hidup,  Epidemiologi, Gejala infeksi, Diagnosis dan Pencegahan
Morfologi  Trichinella Spiralis; (a). Jantan, (b). Betina

Siklus Hidup Trichinella Spiralis

Infeksi cacing Trichinella Spiralis dimulai dengan manusia yang memakan daging babi, beruang ataupun hewan mamalia lainnya (karnivora dan omnivora), baik mentah ataupun yang sudah dimasak namun tidak sempurna. Daging mamalia banyak mengandung kista yang terdapat larva efektif yang masih hidup. Setelah manusia memakan hewan mamalia maka kista akan masuk kedalam lambung dan terjadi eksitasi dan larva akan masuk kedalam usus dan menjadi dewasa.

Pada hari keenam cacing betina mulai mengeluarkan larva, biasanya cacing betina menghasilkan larva sebanyak 1350-1500 ekor. pengeluaran larva akan berlangsung selama 4 minggu. Kemudian larva akan bergerak menuju pembuuh darah dan menuju jantung serta paru-paru dan akhirnya menembus otot.

Trichinella Spiralis : Morfologi, Siklus Hidup,  Epidemiologi, Gejala infeksi, Diagnosis dan Pencegahan
Siklus Hidup Trichinella Spiralis

 Epidemiologi cacing Trichinella Spiralis

Trichinella Spiralis disebut juga cacing otot merupakan salah satu cacing terbesar di dunia (kosmopolit), kecuali di kepulauan pasifik dan australia. Infeksi cacing ini dapat ditentukan oleh adanya larva di dalam kista yang ada pada manusia atau melalui tes intrakutan. Infeksi banyak ditemukan di daerah yang penduduknya gemar makan daging babi ataupun daging hewan mamalia lainnya. Infeksi pada manusia tergantung jumlah larva yang ada pada tubuh babi. Larva dapat dimatikan denga suhu 60 hingga 70ºC, namun larva tidak akan mati pada daging yang diasap atau diasin.

Gejala infeksi Trichinella Spiralis

Setelah cacing masuk ke mukosa usus akan timbul gejala sakit perut dan diare. Gejala yang dikeluhkan tergantung dibagian manakah larva berada. Contohnya sembab di sekitar area mata jika larva menyebar ke bagian mata. Sakit di bagian persendian jika larva menyebar ke bagian persendian. Terjadi gangguan pernapasan jika larva menyebar ke paru-paru. Infeksi Trichinella spiralis dapat juga menyebabkan kelainan jantung atau kelainan syaraf. Jika penderita mengalami masa akut lebih dari 2 minggu maka biasanya akan menyebabkan kematian.

Diagnosis infeksi Trichinella Spiralis

Untuk mendiagnosis terjadinya infeksi cacing otot (Trichinella spiralis), tidak cukup jika hanya melihat gejala klinis pada pasien. Diagnosis yang pasti dapat diperoleh dengan melakukan pemeriksaan laboratorium dengan sampel tinja, test darah, X-Ray, USG dan CT-Scan. Infeksi Trichinella Spiralis juga ditandai dengan adanya benjolan memutih pada kulit berdiameter 5 mm atau lebih dan kulit memerah.

Pencegahan infeksi Trichinella Spiralis

- Hindari makan makanan mentah atau dimasak tidak matang

- Mencuci buah atau sayuran sebelum dimakan

- Mencuci tangan sebelum makan atau sesudah dari toilet

 Pengobatan Infeksi  Trichinella Spiralis

Pengobatan infeksi Trichinella Spiralis ada dua macam yaitu pengobatan spesifik dan pengobatan simtomatik. Pengobatan spesifik adalah pengobatan yang dilakukan oleh dokter dengan memberikan obat cacing spesifik, seperti mebendazole, piperazine dan albendazole. Sedangkan pengobatan simtomatik adalah pengobatan yang dilakukan dengan menyesuaikan gejala yang dikeluhkan oleh pasien, seperti  obat analgetik untuk penghilang rasa sakit kepala atau rasa nyeri pada otot dan obat sedatif untuk obat penenang apabila ada kelainan pada saraf pusat.

Demikian postingan tentang  Trichinella Spiralis : Morfologi, Siklus Hidup, Epidemiologi, Gejala infeksi, Diagnosis dan Pencegahan

SEMOGA BERMANFAAT

Read more

Morfologi Siklus Hidup dan Gejala Klinis Trichuris trichiura

Trichuris trichiura adalah nematoda yang masuk dalam kelas Adenophorea. Karakteristik kelas Adenophorea  adalah tidak memiliki phasmid atau tidak memiliki sistem ekskresi

Morfologi

Cacing Trichuris trichiura dewasa memiliki bagian anterior panjang dan ramping. Bagian posterior tebal. Bentuk secara keseluruhan seperti cambuk sehingga sering kali disebut dengan cacing cambuk. individu jantan lebih kecil daripada betina.

perbedaan ukuran Trichuris trichiura jantan dan betina
Trichuris trichiura (a) betina (b) jantan

Siklus hidup Trichuris trichiura
Trichuris trichiura dewasa biasanya menempati usus besar inang (manusia). namun juga dapat berada dalam usus buntu dan juga rektum. Trichuris trichiura betina dapat memiliki 5.000 telur setiap harinya. Telur berukuran sekitar 50 x 22 um. Telur kemudian akan terbawa feses keluar dari tubuh manusia. Telur akan mengalami perkemanan pada kondisi lembab dan hangat. Perkembangan Larva di dalam telur membutuhkan waktu sekitar 3 sampai 5 minggu. Manusia akan terinfeksi jika makan atau minum dengan makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh telur cacing tersebut.

  1. Siklus hidup cacing jenis ini dimulai dari keluarnya telur trichuris trichiula bersama tinja, telur tersebut akan mengalami pematangan di dalam tanah. Dalam proses ini pematangan telur cacing membutuhkan waktu selama 3 minggu hingga 5 minggu, telur yang sudah matang akan bersifat infektif yang kemudian dapat menginfeksi manusia.
  2. Prosesnya dapat melalui vektor mekanik atau benda lainnya yang telah terkontaminasi. Misalnya tanah telah terkontaminasi oleh tinja manusia (yang mengandung telur cacing cambuk) atau sayuran yang disemprot menggunakan pupuk feses. Infeksi akan langsung terjadi apabila tinja tersebut mengandung terlu yang sudah siap untuk menetas, maka akan menetas didalam usus apabila telur tersebut tertelan oleh manusia.
  3. Dalam proses penetasan telur, maka larva akan keluar melalui dinding telur dan masuk kedalam usus halus. Setelah dewasa, cacing yang berada pada bagian distal usus akan menuju ke daerah colon. Masa pertumbuhan telur menjadi cacing selama 30 hingga 90 hari. Cacing betina dan jantan akan melakukan kopulasi.
  4. Pada saat cacing betina bertelur maka akan bercampur dengan feses di dalam usus besar dan keluar bersama feses. Telur akan mengalami pematangan selam kurang lebih 6 minggu. Proses pematangan akan berjalan dalam tanah yang lembab dan tempat yang teduh. Inang dari trichuris trichiula adalah manusia. Siklus hidup trichuris trichiula berkaitan dengan apa yang dikonsumsi oleh manusia.

gambar siklus hidup Trichuris trichiura
Siklus hidup Trichuris trichiura

Epidemiologi

    Trichuris trichiula (cacing cambuk) dapat ditularkan melalui tanah dan merupakan cacing parasite paling umum. Infeksi ini dapat terjadi di daerah yang terdapat pupuk tinja manusia atau membuang tinja sembarangan terutama di tanah. Cacing dapat menyebar dari manusia ke manusia lainnya melalui penularan tinja-oral atau melalui makanan yang terkontaminasi tinja. Distribusi cacing ini dapat terjadi lebih sering pada daerah dengan cuaca tropis. Penularan ini dapat dicegah dengan tidak membuang tinja di sembarang tempat.

Gejala Klinis Terifeksi Trichuris trichiura

Secara umum, gejala orang yang terinfeksi cacing cambuk, yaitu :

  • Diare
  • Mual dan muntah
  • Sakit kepala
  • Berat badan turun secara drastis

Pasien yang terinfeksi cukup berat dapat menunjukkan gejala seperti berikut :

  • Anemia
  • Diare dan feses bercampur darah
  • Sakit perut, mual dan muntah
  • Terjadi prolapsus rektum akibat mengejan yang sering
  • Terjadi peradangan pada bagian mukosa usus

Langkah Pencegahan supaya tidak terinfeksi Trichuris trichiura
  • Biasakan cuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan
  • Cuci tangan setelah berkontak langsung dengan tanah
  • Gunting kuku secara teratur
  • Jangan buang air besar di sembarang tempat
  • Meminum air yang telah dimasak

Pengobatan Infeksi Trichuris trichiura

Pengobatan biasa dilakukan selama 3 hari dengan menggunakan obat sebagai berikut :

  • Albendazole
  • Mebendazol
  • Invermectin

    Infeksi terkadang terjadi lagi setelah pengobatan.

Demikian postingan tentang Morfologi Siklus Hidup dan Gejala Klinis Trichuris trichiura. Semoga Bermanfaat

Read more

Trichomonas vaginalis : Flagellata yang hidup di vagina

Trichomonas vaginalis adalah parasit yang hidup pada organ reproduksi, yaitu pada vagina, uretra, epididimis dan kelenjar prostat.  Trichomonas vaginalis mempunyai 4 flagel yang muncul dari bagian anterior. Genus trichomonas mempunyai 3 anggota spesies, yaitu Trichomonas vaginalis, Trichomonas tenax dan Trichomonas hominis. Dari ketiga spesies tersebut, Trichomonas vaginalis mempunyai ukuran morfologi paling besar. Panjangnya berkisar antara 7-32 um dan lebarnya berkisar antara 5-12 um. Namun Trichomonas vaginalis memiliki membran bergelombang (undulating membrane) yang paling pendek diantara ketiga spesies tersebut. Membran bergelombang (undulating membrane) dari Trichomonas vaginalis hanya 1/3 dari panjang sel. Membran bergelombang (undulating membrane) adalah selaput yang ada pada membran sel. Terkadang mampu membentuk pseudopodia (kaki semu).


Baca Juga : Balantidium coli, Siliata yang Hidup Parasit pada Manusia


Seperti flagelata lainnya, Trichomonas vaginalis memperbanyak diri dengan pembelahan biner longitudinal. pH optimun bagi Trichomonas vaginalis untuk tumbuh berkisar antara 4-6, sedangkan vagina yang normal memiliki pH 4-4.5. Kenaikan pH pada vagina akan menjadikan Trichomonas vaginalis tumbuh subur. pH pada vagina biasanya dipertahankan oleh bantuan bakteri asam laktat, namun Trichomonas vaginalis dapat mengganggu bakteri tersebut sehingga pH akan naik.


Siklus hidup, struktur, Epidemiologi, Gejala, Diagnosis, Pengobatan, Fisiologi Trichomonas vaginalis
Gambar skematis dari  Trichomonas vaginalis


Epidemiologi Trichomonas vaginalis

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi Trichomonas vaginalis disebut dengan trichomoniasis. Prevalensi pada wanita sekitar 10 sampai 25%. Semakin tinggi tingkat kebersihan seseorang, maka peluang terjangkitnya penyakit tersebut semakin kecil. Sekitar 5% wanita yang terkontaminasi mengeluhkan gejala. Gejala yang muncul diantaranya perubahan sekresi vagina. Berdasarkan analisis statistik, wanita lebih banyak terjangkit trichomoniasis dibandingkan dengan pria. Hal tersebut mungkin disebabkan karena pemeriksaan Trichomonas vaginalis pada pria jauh lebih sulit dibanding pemeriksaan pada wanita. Sampel yang dibutuhkan untuk pemeriksaan pada pria adalah sampel eksudat prostat. Penularan terjadi melalui kontak langsung, biasanya melalui hubungan seksual. Kain lab yang basah juga bisa menjadi media penularan. Trophozoites dari Trichomonas vaginalis dapat bertahan pada kain lab selama 24 jam. Trichomoniasis pada bayi juga dapat terjadi ketika bayi terinfeksi saat melewati jalan lahir.


Gejala dan Diagnosis Trichomonas vaginalis

Trichomonas vaginalis menyebabkan kerusakan sel-sel mukosa vagina. Hal tersebut mengakibatkan peradangan ringan dan vaginitis. Kondisi tersebut ditandai dengan keluarnya cairan kekuningan dan disertai dengan rasa gatal dan terbakar yang terus-menerus. Pada pria, gejala jarang muncul, meskipun mungkin terjadi uretritis dan pembengkakan kelenjar prostat. Gejala trichomoniasis kadang dianggap gejala gonore.

Diagnosis Trichomonas vaginalis pada wanita dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis cairan apusan vagina. Pada Pria, diagnosa dilakukan dengan pemeriksaan cairan prostat, sedangkan pemeriksaan urine dapat dilakukan pada pria dan wanita.


Pengobatan Trichomonas vaginalis

Obat yang efektif untuk membasmi Trichomonas vaginalis adalah Metronidazole. Pemulihan pH pada vagina juga efektif untuk menghentikan infeksi ringan.


Fisiologi Trichomonas vaginalis

Trichomonas vaginalis merupakan organisme anaerob. Organisme anaerob tidak membutukkan oksigen dalam proses metabolismenya.

 

Demikian postingan tentang Trichomonas vaginalis : Flagellata yang hidup di vagina. SEMOGA BERMANFAAT.

Read more

Giardia lamblia, Morfologi, Siklus Hidup, Epidemiologi, Gejala, Diagnosis dan Pengobatan Giardiasis

Morfologi Giardia lamblia

Giardia lamblia mempunyai bentuk simetri bilateral dan sangat mudah dibedakan dengan protozoa lain. Jika dilihat sekilas morfologinya seperti tetesan air. Panjangnya berkisar antara 8-16 um dan lebarnya berkisar antara 5-25 um. Bagian dorsal berbentuk konvek / cembung sedangkan bagian ventral berbentuk konkaf / cekung, namun lebih cenderung datar. Giardia lamblia mempunyai dua inti sel. Mempunyai 2 alat panghisap (adhesive disc) yang fungsinya untuk melekatkan diri pada dinding usus. Mempunyai 4 pasang flagella. Giardia lamblia bergerak seperti cambuk dengan pergerakan yang cepat namun terputus-putus dan memutar-mutar.

Giardia lamblia, Morfologi, Siklus Hidup, Epidemiologi, Gejala, Diagnosis dan Pengobatan Giardiasis
Gambar skematis Tropozoit Giardia lamblia (kiri) dan kista Giardia lamblia (kanan)
Siklus Hidup Giardia lamblia

Tropozoit Giardia lamblia memperbanyak diri dengan pembelahan longitudinal. Pembelahan diawali dengan pembelahan inti sel kemudian diikuti oleh pembelahan adhesive disc dan sitoplasma. Di duodenum dan saluran empedu inang, trofozoit dapat mempertahankan posisinya dengan menempelkan adhesive disc-nya ke sel epitel atau mengunakan flagela untuk berenang di lumen. Pembentukan kista Giardia lamblia terjadi di usus besar. Kista berbentuk bulat telur dengan panjang berkisar antara 9-12 um.

Baca Juga : Balantidium coli, Siliata yang Hidup Parasit pada Manusia

Infeksi Giardia lamblia pada manusia disebut dengan giardiasis. Pada penderita giardiasis, infeksi masif seringkali terjadi. Dalam feses penderita, dapat bisa ditemukan tropozoit yang jumlahnya hingga milyaran. Namun di dalam feses, jarang dijumpai kista. Seseorang dapat terinfeksi oleh Giardia lamblia karena memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh kista. Infeksi juga bisa terjadi ketika seseorang memasukkan jari tangannya ke mulut yang jari tersebut terdapat kista.

Menelan kurang lebih 100 kista efektif menyebabkan infeksi. Setelah tertelan, kista masuk ke lambung dan menuju ke usus halus. Di usus halus kista berubah menjadi tropozoit.

Giardia lamblia, Morfologi, Siklus Hidup, Epidemiologi, Gejala, Diagnosis dan Pengobatan Giardiasis, parasit giardia, giardiasis
Siklus hidup Giardia lamblia

Epidemiologi Giardia lamblia

Giardia lamblia adalah parasit dalam usus yang paling banyak dijumpai pada manusia. Bersifat kosmopolitan dan umumnya menyerang anak-anak usia 6 sampai 10 tahun, namun remaja dan orang dewasa juga dapat terinfeksi parasit tersebut.

Wabah giardiasis sering terjadi di tempat penitipan anak dan tempat-tempat lain yang sanitasinya jelek. Wabah giardiasis pernah terjadi di kota Aspen, Colorado. Ketika itu, jalur suplai air secara tidak sengaja disilangkan dengan jalur pembuangan limbah, serta 11% pemain ski yang hadir pada musim itu terinfeksi. Diantara 59 orang yang dalam tinjanya terdapat Giardia lamblia (positif terinfeksi), 56 orang diantaranya menunjukkan adanya gejala klinis.

Para ahli epidemiologi menduga bahwa berapa hewan seperti anjing dan domba sebagai reservoir potensial sehingga dapat juga menularkan parasit tersebut. Namun para ahli menemukan bahwa ukuran dan struktur Giardia yang ada dalam manusia dan masing-masing hewan tersebut berbeda-beda.

Perbedaan ukuran dan struktur yang cukup signifikan tersebut menyebabkan asumsi bahwa setiap spesies inang yang berbeda memiliki spesies Giardia yang berbeda juga. Asumsi tersebut saat ini telah terbantahkan karena variasi ukuran dan struktur Giardia disebabkan oleh variasi makanan pada tiap-tiap inang, bukan disebabkan oleh variasi genetik.

Gejala dan Diagnosis Giardia lamblia

Infeksi Giardia lamblia menyebabkan gangguan usus yang parah, seperti diare dan gejala-gejala yang terkait dengan malabsorpsi. Trofozoit yang melekat pada permukaan mukosa (dengan adhesive disc) menyebabkan terjadinya pemendekan vili usus halus, inlamasi pada kriptus dan lamina propria, serta lesi pada sel mukosa. Terkadang tropozoit juga dapat menembus mukosa usus.

Infeksi Giardia yang parah menyebabkan sindrom malabsorpsi. Sindrom tersebut ditandai dengan ketidakmampuan usus halus dalam menyerap zat penting yang larut dalam lemak seperti karoten, vitamin B12, dan folat. Sindrom tersebut juga ditandai dengan berkurangnya sekresi sejumlah enzim pencernaan usus kecil, seperti disakaridase. Gejala yang muncul akibat infeksi Giardia lamblia diantaranya adalah diare, steatorrhea, distensi perut, mual, perut kembung. Pada akhirnya, penderita akan mengalami penurunan berat badan. Diagnosis giardiasis dilakukan dengan mencari kista dalam tinja. Pemeriksaan sampel dari duodenum efektif untuk mendeteksi tropozoit ketika tahap awal infeksi.

Baca Juga : Naegleria fowleri, Acanthamoeba dan Balamuthia : Amoebae yang Hidup bebas di alam

Pengobatan Giardia lamblia

Obat yang efektif untuk pengobatan penyakit giardiasis adalah metronidazole. Biasanya giardiasis akan sembuh total dalam waktu 1 minggu ketika diobati dengan metronidazole. Pasien yang tidak diobati dapat menularkan kista nya dari beberapa minggu hingga bulan pasca infeksi.

Fisiologi Giardia lamblia

Penelitian mengungkapkan bahwa Giardia lamblia mampu menggabungkan monosakarida tertentu dengan glikogen. Giardia lamblia tidak memiliki mitokondria tetapi dapat menggunakan oksigen jika tersedia. Giardia lamblia juga tidak memiliki sistem transpor elektron atau siklus TCA.

Untuk memperoleh ATP, Giardia lamblia bergantung pada fosforilasi tingkat substrat-flavin dependent yang memetabolisme karbohidrat menjadi etanol, CO2, dan asetat sebagai produk akhirnya. Jika terdapat oksigen, Giardia lamblia mengekresikan asetat, Jika tidak terdapat oksigen Giardia lamblia mengekresikan etanol.

Pencegahan Infeksi Giardia lamblia

Pencegahan terhadap Infeksi Giardia lamblia dapat dilakukan dengan menambahkan iodine ke dalam air minum dengan tujuan untuk membunuh kista Giardia lamblia.

Demikian Postingan tentang Giardia lamblia, Morfologi, Siklus Hidup, Epidemiologi, Gejala, Diagnosis dan Pengobatan Giardiasis. Semoga bermanfaat.

Read more

Balantidium coli, Siliata yang Hidup Parasit pada Manusia

 Siliata merupakan protozoa yang memiliki tubuh yang bersilia dalam suatu siklus hidupnya. Siliata masuk dalam filum Ciliophora. Karakterikstik yang unik dari siliata adalah memiliki 2 inti sel. 1 makromukleus dan 1 atau lebih mikronukleus. Sejauh ini, Balantidium coli, merupakan satu-satunya siliata yang parasit pada manusia. 

Baca Juga : Karakteristik dan Ciri-Ciri Cestoda Atau Cacing Pita

Balantidium coli merupakan organisme bersel tunggal. Ciri utama dari Balantidium coli adalah mempunyai cekungan pada salah satu sisi selnya. Cekungan tersebut disebut dengan peristome. Selain parasit atau patogen pada manusia Balantidium coli juga parasit pada babi dan monyet. Namun beberapa peneliti perpenddapat yang parasit ke babi adalah Balantidium suis. 

gambar Trofozoit, gambar kista, Balantidium colli
a). Trofozoit dari Balantidium colli; b). Kista dari Balantidium colli

Dalam siklus hidupnya Balantidium colli mengalami dua fase yaitu fase tropozoit dan fase kista. Trofozoit dari Balantidium colli berada dalam usum manusia, tepatnya pada sekum dan usus besar. Trofozoit dari Balantidium colli merupakan  parasit protozoa terbesar yang parasit pada usus manusia, mempunyai panjang berkisar antara 50 -130 mm dan lebar 20-70 mm. Beberapa karakteristik trofozoit dari Balantidium colli adalah :

  • Silia kasar melapisi area peristom
  • Makronukleus biasanya memanjang dan berbentuk ginjal
  • Mikronukleus berbentuk bola
  • Ada dua vakuola kontraktil yang menonjol yaitu di tengah sel dan di dekat ujung posterior.
  • Terdapat vakuola kontraktil
  • Terdapat Vakuola makanan yang berisi debris, bakteri, butiran pati, eritrosit, dan bagian-bagian dari inang
  • Reproduksi aseksual terjadi dengan cara pembelahan transversal. Balantidium coli juga memiliki kemampuan untuk melakukan konjugasi.

Penularan Balantidium coli dari inang satu ke inang lainnya melalui kistanya. Kista berbentuk bulat, mempunyai  diameter 40 sampai 60 mm. Dinding kista tersusun 2 lapis. Jika diamati, akan terlihat silia, makronukleus, dan vakuola kontraktil di dalam kista Balantidium coli. Pembentukan kista (Encystation) terjadi di usus besar, namun terkadang bisa terbentuk saat diluar inang. Kista banyak ditemukan pada kotoran inang yang terinfeksi. Inang dapat terinfeksi oleh Balantidium coli ketika makan atau minum sesuatu yang telah terkontaminasi oleh kista Balantidium coli

Balantidium coli, siliata, parasit pada manusia
Siklus hidup Balantidium coli 


Epidemiologi

Balantidiosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Balantidium coli. Balantidiosis banyak ditemukan di daerah tropis. Namun tingkat infeksi kurang dari 1%. Balantidium coli bersifat nonpatogenik pada hewan, khususnya babi, akan tetapi tingkat prevalensi pada babi berkisar antara 20 sampai 100%. Infeksi Balantidium coli pada manusia banyak terdapat pada daerah-daerah yang terjadi malnutrisi, daerah-daerah dimana babi tinggal bersama manusia sehingga banyak terdapat kontaminasi kista Balantidium coli pada makanan dan minuman mereka.

 Baca Juga : Siklus Hidup dan Perkembangan Entamoeba histolytica serta penjelasan spesies Amoeba lainnya

Gejala dan Diagnosis

Trofozoit dari Balantidium colli berada dalam caecum (sekum) dan pada usus besar. Trofozoit tersebut cenderung menyukai tempat-tempat yang kaya karbohidrat, seperti pada usus halus.  Namun ketika berada pada tempat-tempat yang kaya karbohidrat, Tropozoit tidak menyerang mukosa usus. Para peneliti menyatakan bahwa tropozoit dari Balantidium colli mennghasilkan enzim proteolitik. Enzim tersebut digunakan untuk memyerang epitel mukosa. 

 Infeksi yang terjadi efeknya bervariasi, ada yang asimtomatik dan ada beberapa yang parah. Ketika Balantidium colli menyerang epitel mukosa, maka akan terjadi perdarahan dan ulserasi. Gejala tersebut dinamakan disentri balantidial. Gejala yang muncul juga kolitis dan diare yang menyerupai amoebiasis. Ada beberapa kasus yang terjadi bahwa Balantidium colli dibawa ke darah ke cairan tulang belakang.

Diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan feses untuk mencari keberadaan trofozoit dan kista. Trofozoit mudah diidentifikasi karena ukurannya yang besar. Fakta bahwa Balantidium colli merupakan satu-satunya ciliophoran parasit pada manusia akan mempermudah diagnosis.Kista mempunyai karakteristik diantaranya ukurannya besar, dinding kista yang tebal, makronukleus besar, dan terdapat silia di dalam kista.

Pengobatan

Infeksi terkadang akan hilang dengan sendirinya, dan bersifat asimtomatik, dan tetap menjadi carrier. Pengobatan yang dilakukan dengan tetrasiklin. Metronidazol atau iodoquinol juga bisa digunakan sebagai alternatif pengobatan. Pengobatan dengan tetrasiklin kontraindikasi bagi para wanita hamil dan anak-anak.

Demikian postingan tentang Balantidium coli, Siliata yang Hidup Parasit pada Manusia, Semoga bermanfaat

 











Read more