Tampilkan postingan dengan label biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biologi. Tampilkan semua postingan

Pembelahan Meiosis dan Kromosom pada Manusia

Kromosom Manusia

Kromosom sebenarnya adalah untaian DNA yang tergulung atau termampatkan. Manusia memiliki 46 kromosom yang terdiri dari 23 pasang. Ketika terjadi pembelahan mitosis, kromosom akan sangat mampat dan dapat diamati menggunakan mikroskop sehingga dapat dibedakan antara kromosom satu dengan yang lainnya.

Berdasarkan pengamatan kromosom saat terjadi pembelahan mitosis terdapat 23 jenis / tipe kromosom. Setiap jenis / tipe terdiri dari 2 kromosom sehingga totalnya ada 46 kromosom. Ada beberapa istilah yang berhubungan dengan kromosom, diantaranya adalah kariotipe dan kromosom homolog. Kariotipe adalah penyusunan pasangan kromosom berdasarkan ukurannya. Penyusunan dimulai dari kromosom yang memiliki ukuran terpanjang. 

Pembelahan Meiosis dan Kromosom pada Manusia
Kariotipe : Penyusunan kromosom berdasarkan ukurannya

Kromosom homolog adalah kromosom yang mempunyai panjang dan posisi sentromer yang sama. Kromosom mempunyai bagian-bagian yang menyandikan gen. Bagian tersebut disebut dengan lokus.

Ada 2 jenis kromosom pada manusia yaitu kromosom sex dan autosom. Kromosom sex adalah kromosom yang mempunyai gen penentu jenis kelamin. Autosom adalah kromosom selain kromosom sex.

Kromosom homolog mempunyai lokus-lokus yang menyandikan gen serupa. Misalnya, suatu kromosom pada salah satu lokusnya mempunyai gen yang menyandikan warna kulit maka kromosom homolognya juga mempunyai lokus yang berisi gen penyandi warna kulit.

 Ada pengecualian untuk kromosom sex. Pada manusia, wanita mempunyai kromosom sex (XX) sedangkan pria kromosom sex (XY). Sangat sedikit lokus-lokus pada kromosom X dan kromosom Y yang homolog. Sebagian besar gen di kromosom X tidak mempunyai pasangan di kromosom Y.

 Dalam autosom, masing-masing kromosom selalu mempunyai pasangan yang homolog. Pada tiap-tiap pasang kromosom homolog, satu kromosom berasal dari ayah dan satu pasang berasal dari ibu.

Sehingga dari total 46 kromosom yang dimiliki oleh manusia, 23 kromosom berasal dari ayah (paternal) dan 23 kromosom berasal dari ibu (maternal).

Sel yang mempunyai kromosom homolog disebut dengan sel diploid (2n) sedangkan sel yang tidak mempunyai kromosom homolog disebut dengan sel haploid (n).

Ketika terjadi sintesis DNA, tiap-tiap kromosom akan berduplikasi membentuk kromatid. Kromatid yang identik disebut dengan sister kromatid. Kromatid yang identik terhubung pada sentromer.

Pembelahan Meiosis dan Kromosom pada Manusia
Kromosom homolog, sentromer dan sister kromatid

Siklus hidup manusia diawali dengan terjadinya fertilisasi atau pembuahan. Fertilisasi adalah bertemunya sel sperma dan sel telur. Sel sperma dan sel telur merupakan sel haploid (n). Fertilisasi menyebabkan fusi atau penyatuan antara inti sel sperma dan sel telur sehingga menghasilkan zigot yang haploid (2n). Zigot tersebut akan membelah secara mitosis berkali-kali hingga membentuk janin.

Pembelahan Meiosis dan Kromosom pada Manusia
Fertilisasi dan pembelahan meiosis pada manusia

Ada dua jenis pembelahan sel, yaitu pembelahan mitosis dan pembelahan meiosis. Pembelahan mitosis terjadi pada sel-sel somatic menghasilkan sel diploid (2n). Pembelahan meiosis terjadi pada testis dan ovarium menghasilkan sel haploid. Testis menghasilkan sel sperma dan ovarium menghasilkan sel telur.

Ada 2 jenis pembelahan sel, yaitu pembelahan meiosis dan pembelahan mitosis.

Dalam postingan ini akan dibahas tentang pembelahan meiosis

Pembelahan Meiosis

Pembelahan meiosis adalah pembelahan sel diploid (2n) menjadi sel haploid (n). Ada beberapa tahapan dalam pembelahan meiosis yaitu :

- Profase I

Profase I merupakan tahap awal dari pembelahan meiosis. Selama profase terjadi beberapa hal yaitu :

1. Selaput inti sel mulai terdegradasi.

2. Terjadi perpindahan sentrosom pada kutub yang berlawanan

3. Terjadi pembentukan benang spindle

4. terjadi pemampatan kromosom

5. Tiap-tiap kromosom berdekatan dengan homolognya

6. Mikrotubus mulai menempel pada kinetokor pada tiap-tiap kromosom homolog

 

Pembelahan Meiosis dan Kromosom pada Manusia
Tahap profase I pada pembelahan meiosis

- Metafase I

Tahapan metafase I ditandai dengan pasangan kromosom berjajar pada lempeng metaphase. Lempeng metaphase adalah garis lurus diantara dua sentrosom. Kromosong siap ditarik ke masing-masing kutup.

Pembelahan Meiosis dan Kromosom pada Manusia
Tahapan metafase I pada pembelahan meiosis

- Anafase I

Tahapan anafase I ditandai dengan ditariknya kromosom ke kutup berbeda. Tiap-tiap kromosom pada pasangan kromosom homolog ditarik ke kutup yang berbeda.

Pembelahan Meiosis dan Kromosom pada Manusia
Tahapan anafase I pada pembelahan meiosis


- Telofase I dan sitokinesis

Tahap telofase ditandai dengan telah berkumpulnya kromosom di tiap-tiap kutup yang berlawanan dan diikuti dengan proses pembelahan sel sehingga terbentuk 2 sel haploid. Tidak terjadi duplikasi kromosom diantara meiosis I dan meiosis II. Kemudian diikuti dengan pembelahan sel.

Pembelahan Meiosis dan Kromosom pada Manusia
Telofase I dan sitokinesis pada pembelahan meiosis


- Prophase II

Hampir sama dengan tahap profase I, tahap Profase II ditandai dengan terjadi perpindahan sentrosom pada kutub yang berlawanan, terjadi pembentukan benang spindle. Tiap-tiap kromosom masih terdiri dari dua kromatid yang terhubung dengan sentromer. Pada tahap akhir profase II, terjadi pergerakan kromosom ke lempeng metafase.

Pembelahan Meiosis dan Kromosom pada Manusia
Tahap profase II pada pembelahan meiosis

- Metafase II

Pada tahap metafase II, tiap-tiap kromosom berjajar pada lempeng metafase dan kromatid siap untuk ditarik ke kutup yang berbeda.

Pembelahan Meiosis dan Kromosom pada Manusia
Tahap metafase II pada pembelahan meiosis

- Anafase II

Di tahap anafase II, kromatid dari tiap-tiap kromosom ditarik ke kutup yang berbeda, sehingga setiap kromatid akhirnya menjadi krmomosom tunggal.

Pembelahan Meiosis dan Kromosom pada Manusia
Tahapan anafase II pada pembelahan meiosis

- Telofase II dan sitokinesis

Dalam tahapan telofase II dan sitokinesis, inti sel mulai terbentuk. Proses pembentukan inti sel ditandai dengan mulai munculnya selaput inti. Kromosom mulai memampat dan kemudian diikuti dengan sitokinesis.

Pembelahan Meiosis dan Kromosom pada Manusia
Tahapan Telofase II yang diikuti sitokinesis pada pembelahan meiosis

Dalam pembelahan meiosis, 1 sel induk diploid akan menghasilkan 4 anakan sel haploid. Empat anakan yang dihasilkan memiliki sifat yang berbeda dengan induknya karena telah terjadi crossing over.

Dapat disimpulkan bahwa pembelahan meiosis dikelompokkan menjadi dua, yaitu meiosis I dan meiosis II. Dalam meiosis I, terjadi pemisahan kromosom homolog sedangkan dalam meiosis II terjadi pemisahan sister kromosom.

Demikian postingan tentang Pembelahan Meiosis dan Kromosom pada Manusia, semoga bermafaat.

Read more

Perbedaan Darah manusia (mamalia) dan Darah non Mamalia



Darah merupakan komponen penting bagi manusia dan hewan yang mempunyai beberapa fungsi yaitu untuk mengedarkan nutrisi dan oksigen ke seluruh tubuh serta untuk pertahanan diri. Darah berbentuk cairan yang terdiri dari plasma darah dan sel darah. Pada Vertebrata, darah tersusun dari 55% plasma darah dan 45 % sel darah. Dalam plasma darah terdapat protein plasma, ion-ion, garam,dan nutrien. Sel darah terdiri dari sel darah merah, sel darah putih dan platelet. Sel darah merah, sel darah putih dan platelet berasal dari stem cell di dalam sumsung tulang. Stem cell tersebut unik karena mampu membentuk sel-sel darah yang berbeda secara morfologi atau fungsinya.

Skema Komposisi Darah


Sel darah merah (erythrocytes)


Sel darah merah (erythrocytes) merupakan sel yang paling melimpah keberadaannya dalam darah yaitu sekitar 99,9% dari keseluruhan sel darah.  Sel darah pada Vertebrata mengandung hemoglobin yang berfungsi mengikat oksigen. Oksigen yang telah diikat kemudian akan diedarkan ke seluruh sel-sel di dalam tubuh. Sel darah merah Mamalia berbentuk bikonkaf disk berdiameter  7,8 µm yang tipis dibagian tengah dengan ketebalan sekitar 0,8 µm dan tebal dibagian pinggir dengan  ketebalan sekitar  2,85  µm.


 Sel darah merah Mamalia tidak memiliki organel-organel sel seperti  inti sel dan mitokondria. Pada tahap perkembangan awal, eritrosit Mamalia masih memiliki inti sel dan mitokondria, namun ketika tahap perkembangan akhir, eritrosit membuang inti sel dan mitokondria untuk menghindari stress oksidatif yang disebabkan oleh gula dan heme. Pada Vertebrata selain Mamalia, sel darah merah memiliki organel-organel sel, termasuk inti sel dan mitokondria. Bentuk sel darah merah pada tiap-tiap kelas bervariasi contohnya pada Aves, sel darah merah Aves memiliki bentuk oval dengan variasi warna merah hingga merah muda.
Sel darah merah (erythrocytes); a) Sel darah merah pada mamalia (manusia), b) sel darah merah pada non-mamalia (ayam)


Sel darah putih (leukosit)


Sel darah putih (leukosit) adalah sel-sel darah yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari berbagai serangan baik virus, bakteri atau partikel asing lainnya. Sel darah putih dibedakan menjadi beberapa macam, berdasarkan bentuk dan fungsi yaitu : neutrofil, Eosinofil, basofil, monosit dan limfosit. Sel darah putih pada semua Vertebrata mempunyai inti sel dan organela lain termasuk mitokondria. 

Berikut morfologi dan fungsi sel darah putih pada manusia :

Neutrofil

Bentuk dan morfologi neutrofil adalah sel bulat, inti sel berbentuk lobe hampir seperti bentuk manik-manik.

Fungsi Neutrofil adalah untuk fagositosit serta mengeluarkan senyawa / enzim sitotoksik

Sel neutrofil yang merupakan salah satu dari beberapa jenis sel darah putih


Eosinofil

Morfologi eosinofil yaitu sel berbentuk bulat, inti sel membentuk 2 lobe, granula besar dan berwarna merah.
Fungsi  adalah fagositosit, mengeluarkan enzim sitotoksik, mengurangi inflamasi. Jumlah eosinofil  meningkat ketika terjadi alergi, atau terinfeksi parasit.

Morfologi eosinofil; terlihat inti sel membentuk 2 lobe

Baca JugaTransfusi Darah


Basofil

Basofil mempunyai sel bulat, inti sel  tidak terlalu kelihatan mempunyai banyak granula yang berwarna biru.
Fungsi basofil adalah masuk ke jaringan yang terluka kemudian menghasilkan histamin dan senyawa lain yang memicu reaksi inflamasi. 
Morfologi basofil; Basofil mempunyai banyak granula yang berwarna biru.


 Monosit

Monosit mempuntai ukuran sel sangat besar jika dibandingkan dengan sel darah lain dan inti sel menyerupai ginjal.
Monosit dapat masuk ke dalam jaringan membentuk makrofage dan dapat melakukan fagositosit.
Morfologi monosit; Monosit mempunyai sel yang sangat besar

Limfosit

Limfosit mempunyai sel bulat, inti sel besar, sitoplasma sedikit.
Limfosit berfungsi sebagai sistem pertahanan spesifik.

Morfologi limfosit; Limfosit mempunyai sedikit sitoplasma dan inti sel besar
 


Platelet / Trombosit

Platelet adalah sel yang berperan dalam menghentikan pendarahan ketika pembuluh darah terluka atau mengalami stres dengan mekanisme pembekuan darah. Platelet pada Mamalia tidak memiliki inti sel karena merupakan fragmen-fragmen dari megakariosit. Pada non Mamalia, sel yang ekuivalen dengan platelet Mamalia adalah trombosit. Trombosit berbentuk oval dan mempunyai intisel. Selain berfungsi untuk proses pembekuan darah, trombosit pada ayam juga berfungsi untuk sistem imun non-spesifik.

a). Platelet pada mamalia berupa fragmen-fragmen dari megakariotik yang tidak memiliki inti sel; b) Trombosit pada ayam (non mamalia) memiliki inti sel.
Demikian postingan tentang Perbedaan Darah manusia (mamalia) dan Darah non Mamalia. Semoga bermanfaat

Kata Kunci :
komponen darah, komposisi darah, bagian-bagian darah, fungsi darah adalah, sel darah merah adalah, erythrocytes adalah, perbedaan sel darah manusia dan hewan, sel darah putih, jenis jenis sel darah putih, Macam macam sel darah putih, Neutrofil adalah, bentuk Neutrofil, Eosinofil, Eosinofil adalah, bentuk Eosinofil, basofil adalah, morfologi Eosinofil, Basofil adalah, bagaimana ciri ciri basofil, monosit adalah, bagaimana bentuk monosit, bentuk Limfosit, morfologi limfosit, ciri ciri Limfosit
Read more

Flora Normal (mikroorganisme) pada tubuh Manusia


Pengertian dan Jenis flora normal

Flora normal adalah mikroorganisme yang hidup dalam tubuh manusia. Ada dua jenis flora normal yaitu residen flora dan transien flora.
Residen flora adalah mikroorganisme yang secara tetap  dan terus menerus hidup pada tubuh manusia. Populasi residen flora yang terganggu karena suatu hal akan kembali jika gangguan yang terjadi telah hilang.
Transien flora adalah mikroorganisme yang hidup pada tubuh manusia tetapi hanya sementara, bisa 1 jam, 1 hari, 1 minggu, atau beberapa minggu. Mikroorganisme tersebut berasal dari lingkungan dan tidak menyebabkan suatu penyakit. Namun jika keberadaan atau populasi residen flora terganggu, transien flora dapat berkolonisasi, berproliferasi serta menimbulkan sauatu penyakit.
Pengertian dan Jenis flora normal, Flora normal adalah,  Residen flora adalah, Transien flora adalah, Peran Residen Flora,  Flora normal pada kulit, Flora Normal pada hidung, Flora Normal pada Orofaring (Oropharynx), Flora Normal pada saluran pernafasan, Flora Normal pada mulut, Flora normal pada mata, Flora normal pada telinga, Flora normal pada saluran pencernaan, Normal flora pada uretra, Normal flora pada vagina, penyebab komedo, penyebab jerawat , bakteri penyebab jerawat, mikroorganisme penyebab karang gigi
Gambar 1. Peyebaran Flora normal pada tubuh manusia

Peran Residen Flora

Jenis-jenis mikroorganisme / residen flora yang hidup dalam tubuh manusia tergantung dari faktor-faktor fisiologi seperti suhu, kelembaban, jenis nutrient yang tersedia dan faktor-faktor lain. Beberapa flora normal memberi keuntungan bagi tubuh manusia. Keuntungan-keuntungan dari flora normal yang hidup di tubuh diantaranya adalah sebagai berikut :
- Flora normal yang hidup pada usus mampu memproduksi vitamin K serta ikut berperan membantu penyerapan nutrisi dari makanan.
- Membantu pencegah kolonialisasi mikroorganisme patogen dengan mekanisme interferensi bakteri. Mekanisme interferensi bakteri meliputi kompetisi bindimg site atau reseptor, kompetisi dalam mendapatkan nutrisi antara flora normal dan mikroorganisme patogen. serta adanya hambatan oleh produk metabolisme atau toksin yang dihasilkan oleh flora normal
Namun flora normal akan menyebabkan penyakit / menjadi patogen jika berpindah dari habitat aslinya. Sebagai contoh, bakteri streptococcus yang hidup di saluran pernafasan bagian atas dapat menyebabkan gangguan pada katub jantung jika berada pada saluran darah. Bakteri yang biasanya hidup di usus juga akan menyebabkan penyakit serius jika berada di rongga peritoneal.

Flora normal pada kulit

Luas kulit manusia sekitar 2 meter persegi dan diperkirakan jumlah bakteri yang hidup pada kulit manusia sekitar 1012. Kulit manusia mempunyai anatomi dan fisiologi yang berbeda-beda. Sebagian permukaan luar dari kulit atau yang disebut dengan epidermis tidak memungkinkan bakteri untuk tumbuh dan bekembang karena :
1. mempunyai kelembaban yang rendah dan cenderung kering. Namun ada beberapa bagian dari kulit manusia yang memungkinkan suatu mikroorganisme untuk tumbuh dan berkembang yaitu pada bagian kulit kepala, telinga, daerah aksila, sekitar kemaluan, sekitar dubur, perineum dan telapak tangan
2. kulit mempunyai pH yang asam karena terdapat asam organik yang diproduksi oleh kelenjar minyak dan kelenjar keringat serta bakteri staphylococci (residen flora). pH asam (4-6) menghambat kolonialisasi berbagai mikroorganisme di kulit.
3. keringat yang dihasilkan oleh kelenjar keringat kulit mempunyai kandungan sodium klorida dengan konsentrasi tinggi. Sodium klorida tersebut menyebabkan permukaan kulit menjadi hiperosmotk sehingga menyebabkan mikroorganisme menjadi stress.

Baca Juga : Penyebab Penyakit Kanker (Oncogen, Proto-oncogen dan Tumor-Suppressor Gen )

4. beberapa senyawa kimia pada kulit (bakteriosidal atau bakteriostatik) dapat mengontrol kolonialisasi, overgrowth dan infeksi mikroorganisme. Contohnya kelenjar keringat menghasilkan lisozim (muramidase) yaitu enzim yang dapat menyebabkan lisis pada bakteri Staphylococcus epidermidis dan bakteri gram positif lainnya. Mekanisme Lisozim (muramidase) dalam melisiskan bakteri gram prositif adalah dengan cara menghidrolisis ikatan β (1-4) glikosidik yang menghubungkan asam N-acetylmuramic dan N-acetylglucosamine pada peptidoglikan bakteri gram positif.
Mikroorganisme di kulit biasanya hidup pada sel-sel kulit yang mati. Kelenjar minyak dan kelenjar keringat juga berpengaruh besar pada mikroorganisme yang hidup di kulit. Sekresi dari kelenjar minyak dan kelenjar keringat memiliki kandungan air, minyak, asam amino, urea, elektrolit, dan asam amino merupakan nutrisi bagi mikroorganisme misalnya bakteri Staphylococcus epidermidis dan corynebacteria. Bakteri gram negatif biasanya ditemukan di bagian kulit yang lembab. Pityrosporum ovale dan P. orbiculare yang merupakan yeast seringkali berada pada kulit kepala. Beberapa jamur dermatofitik juga dapat berkembang pada kulit dan biasanya menyebabkan beberapa penyakit seperti kadas dan kurap.
Pengertian dan Jenis flora normal, Flora normal adalah,  Residen flora adalah, Transien flora adalah, Peran Residen Flora,  Flora normal pada kulit, Flora Normal pada hidung, Flora Normal pada Orofaring (Oropharynx), Flora Normal pada saluran pernafasan, Flora Normal pada mulut, Flora normal pada mata, Flora normal pada telinga, Flora normal pada saluran pencernaan, Normal flora pada uretra, Normal flora pada vagina, penyebab komedo, penyebab jerawat , bakteri penyebab jerawat, mikroorganisme penyebab karang gigi
Gambar 2. Bakteri dan yeast banyak ditemukan pada bagian epidermis kulit

Bakteri yang paling umum berkembang di kelenjar kulit adalah Propionibacterium acnes yang merupakan bakteri gram positif, bersifat anaerob, dan berbentuk batang. Bakteri Propionibacterium acnes adalah bakteri yang sangat berhubungan dengan jerawat. Jerawat terjadi pada kulit orang dewasa ketika sistem endokrin sangat aktif. Tingginya aktivitas hormonal tersebut memicu kelenjar minyak untuk memproduksi sebum dalam jumlah besar (over produksi) sehingga sebagian besar sebum terakumulasi di kelenjar minyak. Banyaknya sebum dalam kelenjar minyak memberikan lingkungan yang cocok bagi Propionibacterium acnes untuk hidup. Pada beberapa orang, akumulasi sebum tersebut memicu respon peradangan yang menyebabkan pembengkakan berwarna merah. Pembangkakan tersebut seringkali disebut dengan komedo.
Beberapa mikroorganisme pathogen atau flora residen hidup di sekitar lubang-lubang tubuh. Seperti Staphylococcus aureus yang banyak dijumpi di lubang hidung dan sekitar lubang ans namun jarang ditemukan pada bagian-bagian lain dari permukaan kulit manusia. 

Flora Normal pada hidung

Normal flora yang banyak ditemukan pada hidung adalah bakteri Staphylococcus aureus dan  Staphylococcus epidermidis. Sedangkan bagian nasofaring terkadang terdapat bakteri yang yang mempunyai potensi patogen, seperti Streptococcus pneumoniae, Neisseria meningitidis, dan Haemophilus influenza.
Pengertian dan Jenis flora normal, Flora normal adalah,  Residen flora adalah, Transien flora adalah, Peran Residen Flora,  Flora normal pada kulit, Flora Normal pada hidung, Flora Normal pada Orofaring (Oropharynx), Flora Normal pada saluran pernafasan, Flora Normal pada mulut, Flora normal pada mata, Flora normal pada telinga, Flora normal pada saluran pencernaan, Normal flora pada uretra, Normal flora pada vagina, penyebab komedo, penyebab jerawat , bakteri penyebab jerawat, mikroorganisme penyebab karang gigi
Gambar 3. Hasil pengamatan mikroskop dari bakteri  Staphylococcus epidermidis yang merupakan bakteri penghuni kulit dan hidung


Flora Normal pada Orofaring (Oropharynx)

Orofaring (Oropharynx) adalah bagian dari saluran pencernaan dan saluran pernapasan yang terdapat pada langit-langit lunak dan tepi atas epiglottis. Seperti pada hidung, terdapat bakteri Staphylococcus aureus dan  Staphylococcus epidermidis pada bagian tersebut. Bakteri lain yang ditemukan pada orofaring (Oropharynx) adalah :
- alpha-hemolytic streptococci : Staphylococcus oralis, Staphylococcus milleri, Staphylococcus gordonii, Staphylococcus salivarius
- Branhamella catarrhali

Flora Normal pada saluran pernafasan

Saluran pernafasan bagian tengah dan bagian bawah merupakan bagain tubuh yang steril sehingga tidak ditemui flora normal. Sterilnya saluran pernafasan bagian tengan dan bagian bawah tersebut disebabkan oleh :
- aliran lendir (mucus) yang terus menerus dari sel epitel siliata.
- adanya fagositik dari alvoulus
- adanya bactericidal yang terdapat pada lendir (mucus) hidung.
Pengertian dan Jenis flora normal, Flora normal adalah,  Residen flora adalah, Transien flora adalah, Peran Residen Flora,  Flora normal pada kulit, Flora Normal pada hidung, Flora Normal pada Orofaring (Oropharynx), Flora Normal pada saluran pernafasan, Flora Normal pada mulut, Flora normal pada mata, Flora normal pada telinga, Flora normal pada saluran pencernaan, Normal flora pada uretra, Normal flora pada vagina, penyebab komedo, penyebab jerawat , bakteri penyebab jerawat, mikroorganisme penyebab karang gigi
Gambar 4. Anatomi saluran pernafasan manusia; saluran pernafasan atas banyak dihuni oleh mikroorganisme; sedangkan saluran pernafasan bagaian bawah merupakan bagian yang steril


Flora Normal pada mulut

Flora normal yang hidup pada mulut mempunyai kemampuan untuk menempel pada permukaan bagian mulut seperti pada gigi atau gusi. Karena jika tidak mempunyai kemampuan untuk menempel pada gigi atau gusi, Flora normal tersebut akan ikut tertelan atau dikeluarkan bersama makanan atau minuman. Misalnya, ikut terbuang ketika berkumur.Cukup banyak flora nrmal yang dapat ditemukan di mulut.
Flora normal (mikroorganisme) mulai mengkolonialisasi mulut sesaat setelah bayi dilahirkan. Flora normal (mikroorganisme) yang pertama kali mengkolonialisasi mulut (mulut bayi) adalah Streptococcus, Neisseria, Actinomyces, Veillonella, dan Lactobacillus serta beberapa jenis yeast yang hampir semuanya adalah bersifat aerob dan obligate anaerob. Ketika gigi mulai muncul, Mikroorganisme anaerob (Porphyromonas, Prevotella, dan Fusobacterium) mulai dominan karena lingkungan anaerob mulai terbentuk yaitu daerah antara gigi dan gusi. Seiring dengan tumbuhnya gigi, Streptococcus parasanguis dan Streptococcus mutans mulai tumbuh dengan menempel pada permukaan enamel gigi. Streptococcus salivarius tumbuh dengan menempel pada epitel buccal and gingival dan mengkolonialiasi saliva. Bakteri tersebut memproduksi glycocalyx dan beberapa senyawa lain yang dapat digunakan untuk menempel pada permukaan kulit. Keberadaan bakteri tersebut juga memberi kontribusi penyebab terjadinya plak gigi (karang gigi), karies, gingivitis, dan penyakit periodontal.
Pengertian dan Jenis flora normal, Flora normal adalah,  Residen flora adalah, Transien flora adalah, Peran Residen Flora,  Flora normal pada kulit, Flora Normal pada hidung, Flora Normal pada Orofaring (Oropharynx), Flora Normal pada saluran pernafasan, Flora Normal pada mulut, Flora normal pada mata, Flora normal pada telinga, Flora normal pada saluran pencernaan, Normal flora pada uretra, Normal flora pada vagina, penyebab komedo, penyebab jerawat , bakteri penyebab jerawat, mikroorganisme penyebab karang gigi
Gambar 5. Flora normal memberikan kontribusi dalam pembentukan karang gigi

Flora normal pada mata

Sejak bayi hingga dewasa, hanya sedikit jumlah flora normal yang ditemukan pada conjunctiva mata karena keberadaan lisozim pada air mata. Bakteri yang paling dominan adalah pada conjunctiva mata adalah Staphylococcus epidermidis kemudian diikuti oleh Staphylococcus aureus.

Flora normal pada telinga

Flora normal hanya hidup pada organ pendengaran bagian luar. Telinga bagian luar dan bagian dalam tidak terdapat flora normal karena bagian tersebut merupakan bagian yang steril.  Flora normal yang mendominasi adalah staphylococci dan Corynebacterium. Kadang juga ditemukan Bacillus, Micrococcus, dan Neisseria. Terdapat beberapa bakteri garam negatif yang berbentuk batang seperti Proteus, Escherichia, dan Pseudomonas. Selain bakteri, juga terdapat beberapa spesies fungi sebagau flora normal yang hidup pada telinga diantaranya adalah Aspergillus, Alternaria, Penicillium, Candida, dan Saccharomyces.
Pengertian dan Jenis flora normal, Flora normal adalah,  Residen flora adalah, Transien flora adalah, Peran Residen Flora,  Flora normal pada kulit, Flora Normal pada hidung, Flora Normal pada Orofaring (Oropharynx), Flora Normal pada saluran pernafasan, Flora Normal pada mulut, Flora normal pada mata, Flora normal pada telinga, Flora normal pada saluran pencernaan, Normal flora pada uretra, Normal flora pada vagina, penyebab komedo, penyebab jerawat , bakteri penyebab jerawat, mikroorganisme penyebab karang gigi
Gambar 6. Anatomi organ pendengaran (telinga); telinga bagian luar banyak dihuni oleh mikroorganisme namun telinga bagian tengah dan bagian dalam merupakan bagian yang steril

Flora normal pada saluran pencernaan

Saat dilahirkan, tidak ada mikroorganisme ( flora normal ) yang menghuni saluran pencernaan ( steril). Mikroorganisme ( flora normal ) kemudian masuk ke dalam saluran pencernaan melewati makanan dan minuman. Ketika bayi masih minum ASI (Air Susu Ibu), flora normal yang dominan hidup dalam saluran pencernaan adalah streptococcus dan lactobacillus. Bakteri tersebut mampu memproduksi asam dan dapat bertahan hidup pada pH 5. Jika bayi tersebut minum susu formula, flora normal penghuni saluran usus menjadi lebih bervariasi sehingga streptococcus dan lactobacillus tidak mendominasi.
Pada esophagus orang dewasa, terdapat mikroorganisme yang berasal dari air liar dan makanan. Lambung mempunyai pH yang rendah sehingga meminimalisir mikroorganisme yang ada di dalamnya. Rendahnya pH pada lambung tersebut dapat membunuh beberapa bakteri patogen, seperti Kolera. Namun dalam usus, pH mulai naik mendekati pH netral sehingga pada usus banyak dihuni oleh flora normal (mikroorganisme). Ada 103-106 bakteri/gram di duodenum, 105-106 bakteri/gram di jejunum dan ileum, serta 108-1010 bakteri/gram di cecum dan usus besar (kolon). Sedangkan pada sigmoid colon dan rectum terdapat 1011 bakteri/gram atau 10-30% dari massa feses.
Sebanyak 96-99 % flora normal dalam usus besar orang dewasa bersifat anaerob dan hanya 1-5 % yang bersifat fakultatif anaerob. Flora normal dalam usus mempunyai peran besar dalam sintesis vitamin K, konversi pigmen empedu dan asam empedu, absorsi dan pemecahan nutrient.
Pengertian dan Jenis flora normal, Flora normal adalah,  Residen flora adalah, Transien flora adalah, Peran Residen Flora,  Flora normal pada kulit, Flora Normal pada hidung, Flora Normal pada Orofaring (Oropharynx), Flora Normal pada saluran pernafasan, Flora Normal pada mulut, Flora normal pada mata, Flora normal pada telinga, Flora normal pada saluran pencernaan, Normal flora pada uretra, Normal flora pada vagina, penyebab komedo, penyebab jerawat , bakteri penyebab jerawat, mikroorganisme penyebab karang gigi
Gambar 7. Penyebaran flora normal pada saluran pencernaan

Normal flora pada uretra

Normal flora yang berada pada uretra hanya sedikit dan tipe nya sama dengan flora normal yang ada pada kulit. Jumlahnya sekitar 102-104 /mL.

Normal flora pada vagina

Sesaat setelah lahir hingga beberapa minggu, flora norma yang hidup pada vagina bayi adalah bakteri lactobacillus anareobik karena pada saat tersebut pH pada vagina rendah. Setelah beberapa minggu hingga sebelum pubertas, pH pada vagina menjadi netral sehingga flora normal penghuninya semakin bervariasi yaitu bakteri coccus dan basillus. Ketika memasuki masa pubertas, bakteri lactobacillus aerobik maupun anareobik kembali mendominasi dan memberikan kontribusi untuk selalu menjaga agar pH selalu rendah. pH rendah tersebut penting agar vagina tidak dikolonialisasi oleh mikroorganisme yang patogen. Ketika memasuki masa menopause, pH vagina kembali mendekati normal kembali bervariasi seperti pada masa sebelum pubertas. 
Pengertian dan Jenis flora normal, Flora normal adalah,  Residen flora adalah, Transien flora adalah, Peran Residen Flora,  Flora normal pada kulit, Flora Normal pada hidung, Flora Normal pada Orofaring (Oropharynx), Flora Normal pada saluran pernafasan, Flora Normal pada mulut, Flora normal pada mata, Flora normal pada telinga, Flora normal pada saluran pencernaan, Normal flora pada uretra, Normal flora pada vagina, penyebab komedo, penyebab jerawat , bakteri penyebab jerawat, mikroorganisme penyebab karang gigi
Gambar 8. Bakteri Lactobacillus yang hidup pada vagina
Demikian postingan kali ini tentang Flora Normal (mikroorganisme) pada tubuh Manusia, SEMOGA BERMANFAAT

Read more

Transfusi Darah


Transfusi darah ialah pemindahan darah dari donor ke dalam  peredaran darah resipien. Darah dan berbagai komponen darah dapat ditransfusikan secara terpisah sesuai dengan kebutuhan. Transfusi darah merupakan bagian penting dari pelayanan kesehatan yang modern. Oleh karenanya harus tepat penggunaannya agar aman untuk penderita yang membutuhkannya dan dapat memperbaiki kesehatannya. Bagaimanapun juga seperti pada pengobatan lainnya mungkin dapat juga menyebabkan komplikasi baik akut maupun lanjut selain itu dapat pula membawa risiko lainnya
Komponen darah yang ditransfusikan sesuai dengan yang diperlukan akan mengurangi kemungkinan reaksi transfusi, circulatoryoverload dan penularan infeksi yang terjadi dibandingkan dengan transfusi darah lengkap. Oleh karenanya pemberian transfusi darah yang kurang tepat akan menimbulkan risiko pada penderita yang mendapatkannya sehingga sangatlah penting untuk mengurangi transfusi darah yang tidak diperlukan.
Jenis Jenis Transfusi Darah, Darah Penuh (Whole Blood, WB), Penggunaan Whole Blood, Penggunaan Whole Blood, Dosis dan Cara Pemberian Whole Blood, Sel Darah Merah (Packed Red Cell, PRC), Sel Darah Merah Pekat yang Dicuci (Washed Packed Red Cell, WRC), Konsentrat Trombosit (Thrombocyte Concentrate,TC), E. Plasma Segar Beku (Fresh Frozen Plasma,  FFP), F. Cryoprecipitate (CRYO), enis Antikoagulan untuk Penyimpanan Kantong darah, ACD (Acid Citrate Dextrose), CPD (Citrate Phosphate Dextrose), CPDA (Citrate Phosphate Dextrose Adenine), Heparin, Suhu Penyimpanan Kantong Darah untuk Tranfusi Darah, Teknik Penyimpanan Kantong Darah yang berisi Darah Utuh (Whole Blood), Metabolisme darah selama penyimpanan,
Kantong Darah

Jenis Jenis Transfusi Darah

A. Darah Penuh (Whole Blood, WB)


Darah penuh berisi 250 ml darah + 35 ml antikoagulan CPDA. Darah lengkap berisi sel darah merah, leukosit, trombosit, dan plasma. Darah lengkap dilihat dari masa penyimpanannya dapat dibagi menjadi dua, yaitu darah segar (fresh blood) dan darah yang disimpan (stored blood). Darah segar (fresh blood) addalah darah yang disimpan kurang dari 6 jam, masih lengkap mengandung trombosit dan faktor pembeku. Sedangkan darah yang disimpan (stored blood) adalah darah yang sudah disimpan lebih dari 6 jam. Darah dapat disimpan sampai dengan 35 hari dengan menggunakan antikoagulan CDPA.
 Whole Blood dengan antikoagulan CPDA (Citrate Phosphat Dextrode Adenin) disimpan pada suhu 2 – 6 0C dan lama penyimpanan sampai 35 hari. Jika tidak disimpan pada suhu tersebut, kemampuan untuk menyalurkan oksigen akan berkurang. CPDA mengandung dextrose dan adenine yang bersama-sama akan membantu sel darah mempertahankan ATP selama penyimpanan karena glucose merupakan zat yang penting untuk menjaga daya tahan hidup sel darah merah. Alasan penyimpanan pada suhu 1 – 6 0C adalah untuk menjaga dextrose agar tidak cepat habis selain itu dalamsuhu tersebut akan mengurangi pertumbuhan bakteri yang kemungkinan mengkontaminasi darah selama penyimpanan. Penyimpanan darah di atas suhu 6 0C menyebabkan pertumbuhan bakteri yang sangat cepat, sehingga mungkin dapat terjadinya reaksi transfusi yang dapat berakibat fatal bagi penderita yang menerimanya.
Penggunaan Whole Blood:
1)        Penggunaan WB untuk transfusi ditujukan untuk menambah volume darah dan kemampuan untuk membawa O2 pada kasus-kasus perdarahan akut dan perdarahan dalam jumlah besar.
2)        Pada perdarahan akut dengan kehilangan darah < 15 % biasanya diberikan cairan kristaloid (Normal Saline, Ringer Laktat) atau koloid.
3)        Apabila perdarahan mencapai > 15 % dan pasien berisiko mengalami syok (renjatan) akibat perdarahan maka pemberian WB diindikasikan untuk memperbaiki volume dan membawa O2.
4)        Pada pasien yang memiliki perdarahan melebihi 1/3 dari volume darah dalam tubuh, cairan kristaloid harus diganti dengan cairan koloid (Dextran, Hydroxyethyl Starch/HES, Voluvent).
5)        Untuk transfusi tukar digunakan darah yang berumur tidak lebih dari 4 – 5 hari.

Kontra Indikasi penggunaan Whole Blood:
Whole Blood tidak diindikasikan semata-mata untuk menggantikan volume darah maupun diperuntukkan bagi pasien dengan anemia normovolumik karena berisiko tinggi.


Dosis dan Cara Pemberian Whole Blood
Satu unit darah lengkap pada orang dewasa meningkatkan Hb sekitar 0,5 – 0,6 g/dL. Darah lengkap 8 mL/kg pada anak-anak akan meningkatkan Hb sekitar 1 g/dL. Pemberian darah lengkap sebaiknya melalui filter darah dengan kecepatan tetesan tergantung keadaan klinis pasien, namun setiap unitnya sebaiknya diberikan dalam 4 jam.

 B. Sel Darah Merah (Packed Red Cell, PRC)

Sel darah merah berisi hemoglobin merupakan kelompok zat besi dan berisi protein yang akan membawa oksigen keseluruh tubuh serta memberi warna merah pada darah. Hematokrit adalah presentase volume darah yang berisi sel darah merah. Sel darah merah selalu diproduksi oleh tubuh disamping itu ada juga proses penghancuran.Umur rata-rata sel darah merah yang berada dalam system sirkulasi darah 120 hari dan selanjutnya akan diambil oleh system reticuloendothelial, khususnya limfa. Sel darah merah yang tersedia di UTD (Unit TransfusiDarah) dalam bentuk Sel Darah Merah Pekat (PRC), yang berasal dari WB yang sudah diproses melalui pemutaran dengan Refrigerated Centrifuge. Volume PRC yang dihasilkan ± 200 ml dengan nilai hematokrit 70 – 80 %. Dengan proses pengambilan plasma yang ada dalam WB maka akan mengurangi jumlah isoaglutinin anti A dan anti B yang ada di dalam plasma. Pemberian PRC pada pasien harus dilakukan sesuai dengan golongan darahnya.

C. Sel Darah Merah Pekat yang Dicuci (Washed Packed Red Cell, WRC)

Selain PRC juga disediakan komponen yang dicuci (WRC). Sel darah merah pekat yang dicuci adalah sel darah merah pekat yang setiap unitnya dicuci dengan 1 – 2 liter normal saline yang bertujuan mengurangi 99 % protein, elektrolit dan antibodi. Sel darah merah cuci harus digunakan dalam waktu 24 jam (suhu penyimpanan 2 – 6 0C). Karena pembuatannya dilakukan secara terbuka (open system) selain itu dengan dilakukan pencucian maka antikoagulan akan terambil sehingga tidak dapat disimpan lama.

D. Konsentrat Trombosit (Thrombocyte Concentrate,TC)

Trombosit adalah sel yang dibutuhkan pada proses hemostatik primer dan bersirkulasi di tubuh dengan jumlah 150.000 – 400.000 /mm3. Trombosit dapat diperoleh dengan menggunakan mesin Refrigerated Centrifuge sebagai pemutaran whole blood dengan kecepatan tertentu. Pembuatan TC harus selesai dalam waktu 6 – 8 jam setelah darah diambil dari donor. Selain secara manual trombosit dapat diperoleh dengan alat apherasis, dengan alat ini seorang donor dapat diambil hanya trombositnya saja atau komponen-komponen darah yang lain sesuai yang dibutuhkan saja dan komponen darah lain yang tidak dibutuhkan dapat dikembalikan lagi ke dalam tubuh.

E. Plasma Segar Beku (Fresh Frozen Plasma,  FFP)

Plasma segar beku atau lebih dikenal Fresh Frozen Plasma (FFP) adalah plasma yang dipisahkan dari whole blood dan disimpan pada suhu – 18 0C. 

F. Cryoprecipitate (CRYO)

Cryoprecipitated Anti Hemophilic Factor (Cryo AHF) adalah larutan dingin yang tidak larut yang tertinggal dalam plasma yang berasal dari FFP yang dicairkan pada suhu 2 – 6 0C, kemudian dipisahkan dengan segera dibekukan lagi pada suhu – 18 0C.
Cryo berisi factor pembekuan termasuk faktor VIII, fibrinogen dan faktor XIII. Setiap kantong cryoprecipitate (15 – 30 ml) berisi 80 IU faktor VIII dan fibrinogen 100 – 350 mg (minimal 150 mg).
Pemberian Cryo tidak diperlukan cross matching harus diberikan sesuai golongan darah ABO. Setelah dicairkan, cryoprecipitate harus ditransfusikan segera dalam waktu 4 jam.

Jenis Antikoagulan untuk Penyimpanan Kantong darah

Pemberian zat antikoagulan dalam kantong darah berfungsi menjaga agar tidak terjadi penggumpalan  darah dan memberi nutrisi yang diperlukan darah selama masa penyimpanan. Sel darah merah hanya dapat menyalurkan oksigen bila daya hidupnya tetap dijaga, atau dengan kata lain bentuk dan fungsinya tetap sama seperti ketika darah masih di dalam tubuh.
Pemilihan jenis antikoagulan akan berpengaruh pada batas waktu penyimpanan darah donor dan tidak merubah fungsi dan kualitas komponen darah. Jenis antikoagulan yang baik adalah yang tidak merusak komponen-komponen yang terkandung didalam darah dan harus sesuai dengan jenis komponen darah yang dibutuhkan. Ada beberapa jenis antikoagulan yang dipakai untuk darah donor antara lain:

A. ACD (Acid Citrate Dextrose)

ACD (Acid Citrate Dextrose) berisi asam sitrat yang mengikat ion kalsium darah sehingga proses koagulasi dapat dicegah. Garam sitrat tersebut di dalam tubuh resipien akan dengan cepat dimetabolisir oleh hati yang mempunyai fungsi normal. Sedangkan dextrose disini diperlukan untuk nutrisi sel eritrosit. Masa simpan darah lengkap dalam ACD adalah sampai 21 hari dimana masih terdapat 70% eritrosit yang hidup dan ini merupakan bataswaktu yang diperbolehkan.

B. CPD (Citrate Phosphate Dextrose)

CPD (Citrate Phosphate Dextrose) merupakan anti koagulan yang mengandung fosfat. Fosfat yang terkandung CPD (Citrate Phosphate Dextrose) dalam diperlukan sebagai bahan buffer terhadap asam-asam yang timbul selama penyimpanan. Masa simpan darah lengkap disini juga sampai 21 hari.

C. CPDA (Citrate Phosphate Dextrose Adenine)

Dengan tambahan Adenine dalam CPDA (Citrate Phosphate Dextrose Adenine) maka post-transfussion survival lebih besar dan masa simpan lebih lama yaitu 35 hari.

D. Heparin

 Heparin tidak berisi bahan pengawet eritrosit sehingga darah lengkap yang menggunakan antikoagulan ini hanya berusia masa simpan 48 jam.

Zat yang paling penting untuk menjaga daya hidup darah sel darah merah adalah glukosa (gula) dan adenosine triphosphate (ATP). Sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara ATP, glukosa, dan pH (kadar keasaman). Zat antikoagulan yang umum digunakan adalah citrate phospate dextrose dengan adenine (CPDA). Zat tersebut mengandung dextrose dan adenine yangbersama-sama membantu sel darah mempertahankan ATP selama penyimpanan, serta citrate yang menjaga agar darah tidak menggumpal.
Penyimpanan whole blood dengan antikoagulan CPDA (Citrate Phosphat Dextrose Adenine) disimpan selama penyimpanan 35 hari. Satu kantong unit tranfusi whole blood berisi 250 mL darah dan 35 mL antikoagulan CPDA. CPDA mengandung dextrose dan adenine yang bersama-sama akan membantu sel darah mempertahankan ATP selama penyimpanannya karena glukosa merupakan zat penting untuk menjaga daya hidup sel darah. Penyimanan darah pada suhu 2 sampai 6 0C sangat penting untuk menjaga agar dextrose tidak cepat habis.

Baca juga :




Suhu Penyimpanan Kantong Darah untuk Tranfusi Darah


Penyimpanan darah harus dijaga pada suhu antara 2 sampai 6 0C. Alasan utama pemberian transfusi darah adalah untuk mempertahankan kemampuan tubuh dalam menyalurkan oksigen ke organ-organ yang membutuhkan. Apabila darah tidak disimpan pada 2 sampai 6 0C, kemampuannya untuk menyalurkan oksigen akan sangat berkurang.

Darah donor yang belum segera ditranfusikan akan disimpan dalam refrigerator, suhu penyimpanan sangat berpengaruh terhadap kualitas darah dan usia dari darah yang disimpan. Dalam penyimpanan darah direfrigerator suhu harus stabil dan harus dilakukan pengontrolan setiap hari dengan memakai termometer yang berkualitas baik agar angka yang ditunjukkan menunjukkan suhu yang sebenarnya. Penyimpanan darah donor sebaiknya menggunakan refrigerator yang mempunyai kipas angin didalamnya supaya suhu merata didalam ruang refrigerator dan juga harus ada penanganan bila listrik mati. Suhu untuk penyimpanan darah donor berkisar antara 2– 6 0C, pada suhu ini proses glikolisis dalam darah dapat diperlambat. Dengan suhu yang dingin diharapkan dapat mempertahankan fungsi komponen didalam darah (Suci, 2010).
Alasan lain menyimpan darah pada suhu tersebut adalah untuk mengurangi pertumbuhan bakteri yang mengontaminasi darah yang disimpan. Penyimpanan pada suhu di atas 6 0C menyebabkan pertumbuhan bakteri yang sangat cepat sehingga transfusi darah dapat berakibat fatal bagi penderita yang menerima.
Batas penyimpanan 2 0C juga sangat penting, karena sel darah merah sangat sensitif terhadap pembekuan. Apabila sel darah merah membeku, maka dinding sel darah merah akan pecah dan hemoglobin akan keluar (hemolisa). Keadaan tersebut juga berakibat fatal bagi penerima transfusi darah tersebut.
Suhu di dalam lemari es dan lemari pembeku (freezer) tempat menyimpan darah harus diperiksa dan dicatat secara berkala. Sebaiknya suhu lemari es diperiksa dan dicatat paling tidak dua kali sehari.Cara paling mudah dan aman untuk pemeriksaan suhu lemari es adalah dengan menggunakan termometer.
Penelitian yang dilakukan oleh Renmaur membuktikkan bahwa darah invitro atau dalam kantong darah dan disimpan pada suhu yang rendah yaitu 2-6oC dalam refrigerator, untuk memperlambat perubahan yang terjadi selama penyimpanan, ditambahkan antikoagulan CPDA yang dapat mencegah terjadinya pembekuan darah selama penyimpanan.

a.   Teknik Penyimpanan Kantong Darah yang berisi Darah Utuh (Whole Blood)

Dalam teknik penyimpanan darah diperlukan kondisi khusus untuk darah dengan menjaga suhu 2-6o C di refrigerator. Apabila tidak memiliki refrigerator khusus dapat digunakan refrigerator biasa (seperti yang dipakai di dapur) dengan memperhatikan kondisi khusus. Kondisi khusus tersebut adalah
1)   Kantong darah tidak disimpan bersama reagen dan sampel, tidak boleh dicampur adukkan tempatnya. Apabila hanya terdapat satu refrigerator, penempatan juga harus dipisahkan
2)   Pintu lemari refrigerator hanya boleh dibuka saat menyimpan atau mengeluarkan kantong darah
3)   Penempatan kantong darah harus ditata sedemikian rapi sehingga terjadi sirkulasi udara diantara kantong darah yang lain.
4)   Kantong darah diposisikan berdiri dalam keranjang atau mendatar diatas rak refrigerator.
5)   Jangan menyimpan darah pada pintu lemari refrigerator.
6)   Jangan menyimpan darah dekat freezer (pembeku) refrigerator.
7)   Jangan menyimpan makanan dan minuman bersama kantong darah.
Memantau suhu  refrigerator dan freezer (pembeku) refrigerato tetap harus dilakukan secara berkala dan dicatat minimal dua kali sehari. Cara ini dapat dilakukan menggunakan termometer. Pengukuran manual ini dilakukan untuk mencatat suhu tertinggi dan suhu terendah yang dicapai pada refrigerator. Termometer ditempatkan pada pada satu rak selama satu hari dan dipindahkan ke rak yang lain pada hari berikutnya. Hal ini dilakukan untuk memantau perbedaan suhu di refrigerator .

     Metabolisme darah selama penyimpanan 


Pada darah yang disimpan di luar tubuh (in vitro) seperti kantong donor, dimana kondisinya berbeda dengan kondisi dalam tubuh, terjadi perubahan dalam metabolisme darah tersebut. Adapun perubahan-perubahan yang terjadi selama penyimpanan invitro tersebut adalah sebagai berikut :

a. Daya hidup sel darah merah

Pada waktu penyadapan dalam kantong darah ± 1 – 5 % sel darah merah rusak. Setelah darah disimpan 2 minggu dalam Acid Citrate Dextrose, walaupun hampir semua sel darah mudah hidup normal setelah ditransfusikan, kira-kira 10 % musnah dalam waktu 24 jam. Setelah penyimpanan 4 minggu dalam ACD, daya hidup setelah transfusi menurun dan sebanyak 25% dari sel darah merah hancur dalam bekerja jam pertama setelah transfusi. Hilangnya daya hidup yang disimpan disebabkan minimal oleh 2 faktor yaitu kekakuan membran sel darah merah dan invitroreversible dengan penambahan ATP sebelum transfusi, hilangnya lipid membran yang tidak dapat dicegah pada penyimpanan 40C.
b. Daya hidup trombosit
Pada waktu penyadapan yang terjadi kerusakan trombosit. Tergantung pada suhu penyimpanan, lama simpan dan hidup trombosit berbeda-beda bila disimpan pada 40 C daya hidup pendek, tapi daya hemostatik lebih baik, dapat disimpan selama 72 jam , bila disimpan pada 18 – 200 C : daya hidup lebih baik, daya hemostatik kurang, bila disimpan dengan goyangan dan dalam kantong khusus dapat disimpan sekitar 5 hari.
c. Daya hidup lekosit
Bila disimpan pada 40 C, setelah 48 jam timbul perubahan bentuk yang besar dan setelah 72 jam kehilangan daya fagositosis.
d. Penurunan Kadar ATP
Selama penyimpanan kadar ATP menurun dan ini berhubungan dengan perubahan-perubahan pada RBC yaitu : 1) Perubahan bentuk sel dari ceper (discs) menjadi lebih bulat (spheres). 2) Hilangnya lemak smembran sel (± 25 % setelah penyimpanan 28 hari dalam ACD. Menurunnya : critical haemolotyc volume (mungkin berhubungan dengan hilangnya lemak membrane.
Kemampuan hidup leukosit mengalami penurunan jumlahnya sebanding dengan masa simpannya, sehingga tejadi kenaikan dari cytokine (subtansi protein yang dihasilkan leukosit ) yang mengakibatkan reaksi pada saat transfusi
e. Pengaruh antikoagulan :
Penambahan dextrose : dapat memperbaiki daya hidup RBC, karena dextrose hidrolisis aster phosphor menurun. Selama penyimpanan dan yang merupakan sumber energi untuk sintesis senyawa phosphatediphosphoglycorate dan ATP.
 Demikian postingan tentang Transfusi Darah, Semoga bermanfaat

Kata Kunci Pencarian :
Jenis Jenis Transfusi Darah, Darah Penuh (Whole Blood, WB), Penggunaan Whole Blood, Penggunaan Whole Blood, Dosis dan Cara Pemberian Whole Blood, Sel Darah Merah (Packed Red Cell, PRC), Sel Darah Merah Pekat yang Dicuci (Washed Packed Red Cell, WRC), Konsentrat Trombosit (Thrombocyte Concentrate,TC), E. Plasma Segar Beku (Fresh Frozen Plasma,  FFP), F. Cryoprecipitate (CRYO), enis Antikoagulan untuk Penyimpanan Kantong darah, ACD (Acid Citrate Dextrose), CPD (Citrate Phosphate Dextrose), CPDA (Citrate Phosphate Dextrose Adenine), Heparin, Suhu Penyimpanan Kantong Darah untuk Tranfusi Darah, Teknik Penyimpanan Kantong Darah yang berisi Darah Utuh (Whole Blood), Metabolisme darah selama penyimpanan,

Read more