Tampilkan postingan dengan label Botani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Botani. Tampilkan semua postingan

Biosintesis dan Transport Sukrosa pada Tanaman Tebu


Biosintesis Sukrosa pada Tanaman Tebu

Tanaman tebu merupakan tanaman C4 yang asimilasi karbonnya terjadi di dua sel yaitu sel mesofil dan bundle sheath cell. Jalur asimilasi karbon tanaman C4 dimulai dari CO2 yang masuk melalui stomata ke sel mesofil, kemudian berikatan dengan PEP (Phosphoenol Pyruvate) yang dikatalisis oleh PEPC (Phosphoenol Pyruvate Carboksilase) membentuk asam oksaloasetat yang selanjutnya diubah menjadi asam malat untuk ditransfer ke bundle sheath cell.  Asam malat di bundle sheath cell mengalami dekarboksilasi yang dikatalisis oleh malate dehydrogenase (oxaloacetate-decarboxylating) (NADP+) menghasilkan pyruvat dan CO2. Pyruvat akan dikembalikan lagi ke dalam sel mesofil sedangkan CO2 masuk dalam proses siklus calvin.

Baca Juga : Perbedaan Tanaman C3, Tanaman C4, dan Tanaman CAM
Biosintesis Sukrosa pada Tanaman Tebu, sukrosa adalah, gula pada tebu, sumber gula dari tebu, tanaman C4, asimilasi, Rangkaian biosintesis sukrosa dalam bundle sheath cell tanaman tebu karbon tanaman C4, asimilasi karbon dari tebu, tebu transgenik, sintesis sukrosa, enzim Sucrose phosphate synthase, SPS, enzim SPS adalah, SPS pada tebu, Translokasi atau Transportasi Sukrosa Pada Tanaman Tebu, Sucrose transporter, SUT, Protein SUT, Bambang sugiharto tebu transgenik, tebu transgenik, akumulasi sukrosa, transport sukrosa, cara tebu menyimpan gula
Rangkaian asimilasi karbon pada tanaman C4
Dalam siklus calvin, CO2 mengalami beberapa reaksi yang akhirnya dihasilkan triosa phosphate (triosa-P). Sebagian triosa phosphate digunakan untuk membentuk pati di kloroplast dan ada yang dikeluarkan dari kloroplas untuk membentuk sukrosa di dalam sitosol. Di dalam sitosol, triosa phosphate dikonversi menjadi beberapa senyawa, diantaranya adalah UDP-glucose dan fructose-6-phosphate (F6P). Kedua senyawa tersebut kemudian dikatalis oleh enzim Sucrose phosphate synthase (SPS) menghasilkan sucrose-6-phosphate. Selanjutnya phosphate pada sucrose-6-phosphate dihidrolisis oleh sucrose phosphate phosphatase (SPP) menjadi sukrosa dan phosphate anorganic (Pi). Phosphate anorganik yang masuk ke dalam kloroplast secara antiport dengan triosa-phosphate (triosa-P). Rangkaian biosintesis sukrosa secara umum dapat dilihat pada gambar berikut :
Biosintesis Sukrosa pada Tanaman Tebu, sukrosa adalah, gula pada tebu, sumber gula dari tebu, tanaman C4, asimilasi, Rangkaian biosintesis sukrosa dalam bundle sheath cell tanaman tebu karbon tanaman C4, asimilasi karbon dari tebu, tebu transgenik, sintesis sukrosa, enzim Sucrose phosphate synthase, SPS, enzim SPS adalah, SPS pada tebu, Translokasi atau Transportasi Sukrosa Pada Tanaman Tebu, Sucrose transporter, SUT, Protein SUT, Bambang sugiharto tebu transgenik, tebu transgenik, akumulasi sukrosa, transport sukrosa, cara tebu menyimpan gula
Rangkaian biosintesis sukrosa dalam bundle sheath cell tanaman tebu
Enzim Sucrose phosphate synthase (SPS) merupakan enzim kunci dalam proses biosintesis sukrosa karena besarnya sukrosa yang dihasilkan berbanding lurus dengan jumlah enzim Sucrose phosphate synthase (SPS)  . Sebagian besar tanaman mempunyai lebih dari satu gen yang menyandikan protein Sucrose phosphate synthase (SPS), seperti pada tanaman tebu terdapat 2 gen yang menyandikan Sucrose phosphate synthase (SPS) yaitu SoSPS1 dan SoSPS2.

Baca Juga : Organela sel : Aparatus golgi, Lisosom dan Vakuola

Berdasarkan analisis northern blot, gen SoSPS1 lebih dominan diekspresikan pada jaringan fotosintetik (daun) sedangkan SoSPS2 diekspresikan di akar. Pada tingkatan transkripsi, ekspresi gen SoSPS1 dipengaruhi oleh cahaya dan mencapai maksimum setelah pemberian cahaya selama 24 jam, sedangkan  gen SoSPS2 tidak dipengaruhi oleh cahaya.

Translokasi atau Transportasi Sukrosa Pada Tanaman Tebu

Sukrosa merupakan senyawa yang dibutuhkan oleh setiap bagian tanaman. Sukrosa banyak digunakan tanaman sebagai sumber energi serta disimpan sebagai cadangan makanan. Pada tanaman tebu, sukrosa disimpan/diakumulasikan pada batang. Akumulasi sukrosa pada organ penyimpanan banyak dipengaruhi oleh  translokasinya dari source ke sink. Proses translokasi sukrosa dari source ke sink termasuk dalam long distance transport yang melewati pembuluh floem dan dapat terjadi secara simplast maupun apoplast. Simplast adalah transport zat dari sel ke sel yang difasilitasi oleh plasmodesmata, sedangkan apoplast adalah transport zat melewati ruang antar sel dan difasilitasi oleh protein Sucrose transporter (SUT). Translokasi atau transportasi sukrosa oleh protein SUT merupakan bentuk pengangkutan aktif yang merupakan pengangkutan zat melawan gradien konsentrasi serta menggunakan mekanisme sukrosa-H+ simporter (sucrose proton symport).
Sucrose transporter terletak pada membran plastid, membran vacuola, dan membran plasma. Protein sucrose transporter berperan penting dalam translokasi sukrosa secara aktif pada sel tanaman. Sukrosa akan memasuki sel pengiring (companion cell) dan sieve elemen melalui sucrose transporter. Sukrosa yang berada di dalam jaringan source dan sel pengiring (companion cell), akan memasuki sieve element floem melalui plasmodesmata yang akan bergerak  menuju jaringan penyimpan (sink) melalui aliran massa.
Biosintesis Sukrosa pada Tanaman Tebu, sukrosa adalah, gula pada tebu, sumber gula dari tebu, tanaman C4, asimilasi, Rangkaian biosintesis sukrosa dalam bundle sheath cell tanaman tebu karbon tanaman C4, asimilasi karbon dari tebu, tebu transgenik, sintesis sukrosa, enzim Sucrose phosphate synthase, SPS, enzim SPS adalah, SPS pada tebu, Translokasi atau Transportasi Sukrosa Pada Tanaman Tebu, Sucrose transporter, SUT, Protein SUT, Bambang sugiharto tebu transgenik, tebu transgenik, akumulasi sukrosa, transport sukrosa, cara tebu menyimpan gula
Translokasi Transportasi dari daun ke organ yang membutuhkan . S: sukrosa, P: plasmodesmata 
Demikian Postingan kali ini tentang Biosintesis dan Transport Sukrosa pada Tanaman Tebu. Semoga bermanfaat

Kata Kunci :
Biosintesis Sukrosa pada Tanaman Tebu, sukrosa adalah, gula pada tebu, sumber gula dari tebu, tanaman C4, asimilasi karbon tanaman C4, Rangkaian biosintesis sukrosa dalam bundle sheath cell tanaman tebu, asimilasi karbon dari tebu, tebu transgenik, sintesis sukrosa, enzim Sucrose phosphate synthase, SPS, enzim SPS adalah, SPS pada tebu, Translokasi atau Transportasi Sukrosa Pada Tanaman Tebu, Sucrose transporter, SUT, Protein SUT, Bambang sugiharto tebu transgenik, tebu transgenik, akumulasi sukrosa, transport sukrosa, cara tebu menyimpan gula

Read more

Manfaat dan Kandungan Senyawa Aktif Tanaman Kelor (Moringa oleifera)

Kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman asli kaki Bukit Selatan Himalaya di India, namun saat ini Moringa oleifera  (Kelor) dapat ditemukan hampir di seluruh negara-negara tropis. Moringa oleifera  (Kelor) merupakan komoditas pangan yang penting sebagai sumber gizi alami di daerah tropis. Daun, buah, bunga, dan polong yang belum matang dari pohon kelor digunakan sebagai sayuran bernutrisi di berbagai negara terutama di India, Pakistan, Filipina, Hawaii dan banyak bagian Afrika.
Moringa oleifera  (Kelor )tumbuh dalam bentuk pohon dengan tinggi 7 - 12 m. Batang berkayu (lignosus), tegak, berwarna putih kotor, kulit tipis dan memiliki permukaan yang kasar. Percabangan simpodial, arah cabang tegak atau miring, cenderung tumbuh lurus dan memanjang. Budidaya Moringa oleifera  (Kelor) bisa dilakukan secara generatif (biji) maupun vegetatif (stek batang). Tumbuhan ini mampu tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai di ketinggian ± 1000 m di atas permukaan laut, dan di tanam oleh masyarakat sebagai tapal batas atau pagar di halaman rumah atau ladang.
Klasifikasi kelor (Moringa oleifera), Manfaat Kelor (Moringa oleifera), Kandungan Bahan Aktif pada Kelor (Moringae oleifera), Mekanisme Kerja Senyawa Antibakteri Daun Kelor (Moringa  oleifera), Fungsi kandungan senyawa dalam daun kelor, Cara Ekstraksi Senyawa Aktif dari Kelor, Ekstraksi Senyawa Aktif dari Kelor dengan Pemanasan, Ekstraksi Senyawa Aktif dari Kelor tanpa pemanasan, Infusa,  Sokletasi, Maserasi, Digesti

Klasifikasi kelor (Moringa oleifera)
Kingdom              : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom         : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi         : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                    : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas                    : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Sub Kelas             : Dilleniidae
Ordo                     : Capparales
Famili                   : Moringaceae
Genus                   : Moringa
       Spesies                 : Moringa oleifera      



Manfaat Kelor (Moringa oleifera)

Seluruh bagian dari tumbuhan kelor (Moringa oleifera) dapat dikonsumsi oleh manuasia. Selain dimanfaatkan untuk menahan erosi dan menyimpan air pada lereng bukit. Daun yang gugur juga membuat permukaan tanah menjadi subur, karena seiring dengan waktu daun-daun itu akan menjadi kompos. Kegunaan lain Moringa oleifera  (Kelor) meliputi: sebagai makanan ternak (daun dan biji), biogas (daun), pewarna (kayu), pupuk (biji) dan obat (seluruh bagian tumbuhan).
Moringa oleifera  (Kelor) disebut sebagai pemurni air dan Super Nutrisi, juga digunakan untuk penyembuhan berbagai penyakit. Berbagai bagian dari tanaman seperti daun, akar, biji, kulit kayu, buah, bunga dan polong matang, bertindak sebagai stimulan jantung dan peredaran darah, memiliki anti-tumor, anti-inflamasi, anti-hipertensi, penurun kolesterol, anti-oksidan, anti-diabetik, aktivitas hepatoprotektif dan antibakteri dan antijamur. Pada bagian akar kelor diolah untuk obat luar penyakit beri-beri, serta daunnya digunakan untuk obat kulit. Sementara untuk obat dalam, sering dimanfaatkan untuk penyakit rematik, epilepsi, kekurangan vitamin C, gangguan atau infeksi saluran kemih, bahkan sampai penyakit kelamin “gonorrhoea”.
Obat alternatif yang digunakan di Indonesia sangatlah banyak. Seiring berjalannya waktu saat ini penggunaan obat berkembang sangat cepat. Salah satu contoh obat yang digukan adalah kelor. Hampir semua bagian dari kelor dapat dimanfaatkan, beberapa referensi menyebutkan bahwa daun kelor dapat mencegah stres oksidatif.

Penelitian in vitro menunjukkan bahwa obat tradisional dapat seefektif obat modern sebagai alternatif antibakteri patogen yang aman dan ekonomis. Selain sebagai antibakteri ekstrak daun Moringa oleifera  (Kelor)dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan sehingga tanaman ini dapat dianggap sebagai sumber antioksidan alami untuk melawan penuaan dan radikal bebas.

Kandungan Bahan Aktif pada Kelor (Moringae oleifera)

Kelor kaya dengan senyawa yang mengandung gula sederhana dan senyawa yang cukup unik yaitu glucosinolates dan isothiocyanates. Daun Moringa oleifera (Kelor) menjadi sumber anti oksidan alami, suplemen makan, pencegahan hepatoksitas. Selain itu komponen spesifik daun Moringa oleifera (Kelor) juga digunakan sebagai obat hipertensi, antikanker dan aktivitas antibakteri meliputi  senyawa 4-(α-Lrhamnopyranosyloxy) benzyl isothiocyanate, pterygospermin, Niazimicin, pterigospermin dan benzyl isothiocyanate. Berkaitan dengan fungsi senyawa metabolik sekunder sebagai antibakteri dan antivirus pada tanaman daun Morenga oleifera (Kelor) selama masa pertumbuhan terjadi perubahan kandungan komposisi senyawa fitokimia. Kandungan fitokimia paling tinggi pada Moringa oleifera (Kelor) terdapat pada daun yang paling muda.

 Mekanisme Kerja Senyawa Antibakteri Daun Kelor (Moringa  oleifera)

Beberapa penelitian menyatakan senyawa kimia dalam tanaman dapat bersifat antibakteri yaitu mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Daun Moringa oleifera (Kelor) memiliki beberapa senyawa metabolik sekunder seperti fenolik, alkaloid, tanin, dan minyak atsiri esensial (essensial oils) yang memiliki sifat antibakteri, pada daun Moringa oleifera  (Kelor) tanin berperan sebagai pendenatusai protein dan mencegah perkembangan pencernaan bakteri, sedangkan flavonoid senyawa yang mudah larut dalam air yaitu menghambat kerja antibakteri dan antivirus.
Daun Kelor (Moringa oleifera)  mengandung protein dengan berat molekul rendah yang mempunyai aktifitas antibakteri dan antijamur. Antibakteri digambarkan sebagai produk alami organik dalam menghambat bakteri, yaitu dilakukan dengan cara mendenaturasi protein dan merusak membran sel dan  melarutkan lemak yang terdapat pada dinding sel. Terjadinya kerusakan pada membran sel mengakibatkan terhambatnya aktivitas dan biosintesa enzim-enzim spesifik yang diperlukan dalam reaksi mertabolisme hingga mengakibatkan kematian pada bakteri.
Antibakteri dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu antibakteri sintetik dan antibakteri alami. Antibakteri sintetik adalah antibakteri yang diperoleh dari sintesa reaksi kimia, yaitu Butil Hidroksi Anisol (BHA) dan Butil Hidroksi Toluene (BHT). Antibakteri alami adalah senyawa yang diperoleh dari ekstrak bahan alami pada tumbuh-tumbuhan, seperti tokeferol, karoten, flavonoid, dan phenolic. Antibakteri alami banyak ditemukan dalam tumbuhan Kelor (Moringa oleifera), salah satunya pada bagian daun yang kaya akan senyawa fitokimia, karoten, vitamin, nineral senyawa flavonoid, dan phenolic. Saponin, polifenol dan flavonoid berfungsi sebagai antibaktri tapi dapat juga digunakan sebagai antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas.


Fungsi kandungan senyawa dalam daun kelor adalah sebagai berikut:
1. Alkaloid merusak komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri sehingga lapisan dinding sel bakteri tidak utuh dan menyebabkan kematian bakteri
2. Flavonoid dapat mendenaturasi protein sel bakteri dan merusak membran dan memiliki sifat antivirus yang meminimalis gejala inflamasi dan masal sinus
3. Saponin mampu meningkatkan permeabilitas membran sel yang mengakibatkan terjadinya hemolisis sel bakteri
4. Polifenol bekerja dengan membentuk ikatan koagulasi protoplasma bakteri. Berperan sebagai pendenaturasi protein serta mencegah proses perkembagan pencernaan bakteri 

Cara Ekstraksi Senyawa Aktif dari Kelor

Ekstraksi adalah pemisahan satu senyawa dari campuran beberapa senyawa. Ekstrak adalah sediaan kering, kental, atau cair yang dibuat dengan menyaring simplisia nabati dan hewani menurut cara yang cocok, diluar pengaruh sinar matahari yang langsung. Ekstrak kering harus lebih mudah digerus menjadi serbuk.

Ekstraksi Senyawa Aktif dari Kelor dengan Pemanasan

1. Infusa
Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstrak simplisia nabati dengan air pada suhu 90oC selama 15 menit. Cara pembuatan infusum daun Moringa oleifera  (Kelor)yang telah dikeringkan yaitu  ditimbang 10 gram serbuk daun Moringa oleifera  (Kelor)dengan timbangan analitik, setelah itu serbuk daun Moringa oleifera  (Kelor)diletakkan dalam beaker glass dan ditambahkan aquades sebanyak 100 mL, kemudian dipanaskan pada waterbat selama 15 menit dihitung mulai suhu mencapai  90oC, setelah itu larutan disaring menggunakan kain flannel steril hingga ekstrak menjadi 100 mL.

2. Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi dengan cara panas menggunakan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi secara kontinu dengan jumlah pelarut yang relatif konstan. Alat soklet akan mengosongkan isinya kedalam labu dasar bulat setelah pelarut mencapai kadar tertentu. 

Ekstraksi Senyawa Aktif dari Kelor tanpa pemanasan

1. Maserasi
Ekstraksi cara dingin atau maserasi merupakan proses penyarian senyawa kimia pada suhu kamar dengan merendam sampel menggunakan pelarut air, ethanol atau methanol hingga bahan mudah larut. Metode ini dilakukan pada bahan yang tidak tahan panas. Bahan berupa serbuk simplisia yang halus direndam  pada botol yang berwarna gelap atau terlindungi dari cahaya matahari sampai meresap dan melemahkan susunan sel, sehingga zat-zat yang mudah larut akan segera larut. Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman. Setelah proses ekstraksi, pelarut dipisahkan dari sampel dengan penyaringan.  Kelemahan metode masrasi adalah waktu ekstraksi yang cukup lama 3-7 hari, pelarut yang digunakan cukup banyak dan besar kemungkinan beberapa senyawa akan hilang.
2. Digesti 
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengaduk kontinu) pada suhu kamar, yaitu secara umum dilakukan pada suhu 40o-50oC

Demikian postingan tentang Manfaat dan Kandungan Senyawa Aktif Tanaman Kelor (Moringa oleifera). Semoga Bermanfaat

Baca Juga :




Kata Kunci

Klasifikasi kelor (Moringa oleifera), Manfaat Kelor (Moringa oleifera), Kandungan Bahan Aktif pada Kelor (Moringae oleifera), Mekanisme Kerja Senyawa Antibakteri Daun Kelor (Moringa  oleifera), Fungsi kandungan senyawa dalam daun kelor, Cara Ekstraksi Senyawa Aktif dari Kelor, Ekstraksi Senyawa Aktif dari Kelor dengan Pemanasan, Ekstraksi Senyawa Aktif dari Kelor tanpa pemanasan, Infusa,  Sokletasi, Maserasi, Digesti


Read more

Kandungan dan Manfaat Biji Sirsak


Tanaman Sirsak (Annona muricata Linn)

Sirsak atau durian belanda (Annona muricata L.) adalah tanaman yang berasal dari Karibia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan.Menurut bahasa Belanda tanaman inimemiliki nama Zuurzak (kantung yang asam). Buah sirsak ukurannya cukup besar antara 20–30 cm dengan berat mencapai 2,5 Kg. Biji Sirsak berwarna coklat kehitaman dan keras, berujung tumpul, permukaan halus mengkilat dengan ukuran panjang kira-kira 16,8 mm dan lebar 9,6 mm. Jumlah biji dalam satu buah bervariasi, berkisar antara 20–70 butir biji normal, sedangkan biji yang tidak normal berwarna putih kecoklatan dan tidak berisi. Daunnya berbentuk bulat telur agak tebal dengan bagian permukaan atas halus berwarna hijau tua sedangkan bagian bawahnya mempunyai warna yang lebih mud. .Sirsak merupakan tumbuhan yang berbatang utama kecil dan rendah, dapat tumbuh di sembarang tempat dan tidak mengenal musim. Buah yang besar dapat diperoleh dengan cara ditanam di daerah yang tanahnya cukup mengandung air, melalui okulasi yang akan menghasilkan buah pada usia 4 tahun setelah ditanam.
            Tanaman Sirsak mempunyai taksonomi sebagai berikut :
Kingdom             : Plantae
Divisi                   : Spermatophyta
Sub divisi            : Angiospermae
Kelas                   : Dicotyledonae
Ordo                    : Polycarpiceae
Famili                  : Annonaceae
Genus                  : Annona
Spesies                 : Annona muricata Linn.


Tanaman Sirsak (Annona muricata Linn), Manfaat Biji Sirsak, Kandungan Senyawa Aktif  Biji Sirsak, Teknik Pemisahan Senyawa Aktif Biji Sirsak, Ekstraksi biji sirsak, Maserasi (Ekstraksi Padat-Cair) biji sirsak, Partisi (Ekstraksi Cair-Cair) biji sirsak,
Buah sirsak


Manfaat Biji Sirsak


Biji Sirsak merupakan limbah yang banyak dibuang setelah diambil buahnya (seperti pada industri jus buah). Beberapa penelitian menyebutkan bahwa biji Sirsak lebih banyak dimanfaatkan sebagai pestisida/insektisida nabati. Ekstrak biji Sirsak memiliki aktivitas terhadap hama Epilachna sparsa (E. sparsa), rayap Coptotermes sp, dan hama thrips (H. haemorhoidalis). Sifat pestisida nabati dari biji sirsak ini terjadi karena biji sirsak mengandung zat ekstraktif yang bertindak sebagai antifeedant (antimakan/menghalangi makan serangga) dan repellent (penolak serangga)sehingga dapat menyebakan kematian pada serangga.

Tanaman Sirsak (Annona muricata Linn), Manfaat Biji Sirsak, Kandungan Senyawa Aktif  Biji Sirsak, Teknik Pemisahan Senyawa Aktif Biji Sirsak, Ekstraksi biji sirsak, Maserasi (Ekstraksi Padat-Cair) biji sirsak, Partisi (Ekstraksi Cair-Cair) biji sirsak,


Kandungan Senyawa Aktif  Biji Sirsak

Pada umumnya, biji dari tanaman memiliki kandungan karbohidrat berupa pati (80 %), selulosa (2–5 %) dan hemiselulosa (7–15 %). Sedangkan biji Sirsak kaya akan minyak (22,10 %) dan protein (21,43 %). Minyak biji Sirsak terdiri dari 28,07 % asam lemak jenuh dan 71,93 % asam lemak tak jenuh terdiri dari 41–58 % asam oleat, 12,33 % asam linoleat, 16 % asam palmitat dan 5 % asam stearat). Bila dibandingkan seratnya, biji Sirsak kaya akan magnesium dan zink, tapi rendah kalium dan kalsium.
Senyawa aktif dalam tanaman sirsak adalah senyawa annonaceous acetogenin yang kemungkinan memiliki potensi sitotoksik (senyawa yang dapat bersifat toksik untuk menghambat dan menghentikan pertumbuhan sel kanker).
Senyawa annonaceous acetogenin memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan sel, bersifat sitotoksik,antimalaria, antiparasit, antimikroba, antibakteri, antijamur, menurunkan tekanan darah tinggi, menormalkan sistem syaraf yang kurang baik dan sebagai pestisida alami.Senyawa annonaceous acetogenin pada tanaman sirsak kemungkinan tersebar pada seluruh bagian tanaman (termasuk biji Sirsak), meskipun dengan konsentrasi yang berbeda-beda.


Teknik Pemisahan Senyawa Aktif Biji Sirsak


A. Ekstraksi senyawa kandungan biji sirsak

            Ekstraksi adalah metode pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan yang tidak saling larut. Prinsip ekstraksi adalah melarutkan senyawa polar dalam pelarut polar & senyawa non polar dalam pelarut non polar (like dissolve like). Faktor yang mempengaruhi proses ekstraksi adalah persiapan bahan, pemilihan pelarut, dan metode ekstraksi (meliputi lama ekstraksi, suhu, lama pengadukan, proses penyarian dan pemekatan). Hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan jenis pelarut adalah daya melarutkan, titik didih, sifat toksik, mudah tidaknya terbakar dan sifat korosif terhadap peralatan ekstraksi.

B. Maserasi (Ekstraksi Padat-Cair) senyawa kandungan biji sirsak

Maserasi merupakan proses perendaman sampel dalam pelarut organik yang digunakan pada temperatur ruangan. Penekanan utama dalam maserasi adalah tersedianya waktu kontak yang cukup antara pelarut dan jaringan yang diekstraksi. Proses ini sangat menguntungkan dalam isolasi bahan alam. Saat perendaman dinding dan membran sel akan pecah akibat perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar sel sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel
Kelebihan dari metode maserasi adalah sederhana, relatif murah, tidak memerlukan peralatan yang rumit, terjadi kontak antara sampel dan pelarut yang cukup lama dan dapat menghindari kerusakan komponen senyawa yang tidak tahan panas. Kelemahan metode ini adalah membutuhkan waktu yang cukup lama dan menggunakan jumlah pelarut yang banyak.

C. Partisi (Ekstraksi Cair-Cair) senyawa kandungan biji sirsak

Ekstraksi cair-cair merupakan metode ekstraksi yang didasarkan pada sifat kelarutan komponen target dan distribusinya dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur,yakni sebagian komponen larut pada fase pertama dan sebagian larut pada fase kedua. Syarat pelarut untuk ekstraksi cair-cair adalah memiliki kepolaran yang sesuai dengan bahan yang diekstraksi dan harus terpisah secara pengocokan yang ditandai dengan terbentuknya dua lapisan yang tidak saling campur. Kelebihan dari metode partisi adalah dapat memperoleh komponen bioaktif yang lebih spesifik dan waktunya ujinya cepat (waktu total ekstraksi pendek).
Pelarut-pelarut golongan alkohol merupakan pelarut yang paling banyak digunakan dalam proses isolasi senyawa organik bahan alam, karena dapat melarutkan senyawa metabolit sekunder secara maksimal. Salah satu pelarut alkohol yang digunakan untuk ekstraksi maserasi adalah metanol.Metanol mempunyai beberapa kelebihan sebagai pelarut ekstraksi karena termasuk pelarut universal, tidak menyebabkan pembengkakan sel, menghambat kerja enzim, memperbaiki stabilitas bahan obat terlarut, mengendapkan protein, dan melarutkan hampir semua senyawa organik (baik polar, semi polar maupun non polar), sehingga menghasilkan bahan aktif yang optimal.

D. Hidrolisis senyawa kandungan biji sirsak

   Hidrolisis adalah reaksi penguraian senyawa dengan air. Reaksi hidrolisis dilakukan untuk memutus ikatan glikosida pada senyawa organic. Glikosida merupakansenyawa yang terdiri dari gabungan bagian gula (glikon) yang bersifat polar dan bagian bukan gula (aglikon) yang dapat bersifat polar, semipolar maupun non polar (senyawa metabolit sekunder).
Reaksi hidrolisis yang menggunakan air berlangsung sangat lambat sehingga memerlukan bantuan katalisator (seperti asam). Katalisator asam yang sering digunakan dalam industri adalah asam klorida (HCl) karena garam yang terbentuk tidak berbahaya (NaCl). 

Demikian Postingan tentang Kandungan dan Manfaat Biji Sirsak. Semoga bermanfaat.

Baca Juga :




Kata Kunci :
Tanaman Sirsak (Annona muricata Linn), Manfaat Biji Sirsak, Kandungan Senyawa Aktif  Biji Sirsak, Teknik Pemisahan Senyawa Aktif Biji Sirsak, Ekstraksi biji sirsak, Maserasi (Ekstraksi Padat-Cair) biji sirsak, Partisi (Ekstraksi Cair-Cair) biji sirsak,





Read more